JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Budayawan senior, Ajip Rosidi menyerukan penolakan terhadap langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengubur sejarah dan aktivitas seniman dan budayawan di areal Taman Ismail Marzuki (TIM), kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
“Kebijaksanaan yang dilakukan Gubernur Anies itu salah. Itu harus dihentikan. Dan dikembalikan kepada fungsinya semula,” tegas Ajib.
Karena itu, dia meminta pemerintah mengembalikan kepada fungsi awal dengan tata cara pengelolaan yang tidak untuk mencari bisnis semata.
“Kebijaksanaan Gubernur Anies membangun hotel berbintang di TIM itu salah. Kembalikan kepada semestinya,” ujarnya.
Ajip menyampaikan, para seniman, budayawan, pekerja budaya serta pegiat seni budaya yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menentang keras perobohan gedung Graha Bakti Budaya yang lantas hendak digantikan dengan hotel dan bisnis.
Berikut ini isi lengkap seruan Forum Seniman Peduli TIM:
Kami Seniman, Budayawan dan Pekerja Budaya, juga Forum Seniman Peduli TIM, yang bekerja dan berkreasi di dalam kompleks TIM sepanjang usianya, berdasar pada, pertama, tetap dipaksakannya pelaksanaan pembongkaran dan pembangunan TIM yang didasarkan pada desain Revitalisasi dari Pemda DKI walau sudah kami tolak dengan keras.
AYO BACA : GBB TIM Dirubuhkan, Pusat Budaya dan Seni Jakarta Terancam Punah
Dua, tetap berlakunya ketentuan dalam Pergub 63 Tahun 2019 yang memberi wewenang pada Jakpro sebagai pengelola TIM selama 28 tahun mendatang.
Tiga, dinafikannya maksud dan misi dari almarhum Ali Sadikin yakni Gubernur DKI Jakarta sejak 28 April 1966- Juli 1977, pada saat mendirikan TIM sebagai Rumah Ekspresi Seniman/Budayawan.
Empat, dikhianatinya konstitusi kita, UUD 1945 Pasal 32 Ayat 1 yang berbunyi, Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Maka dengan ini, kami menuntut dengan keras, moratorium seluruh pembangunan dan pembongkaran TIM oleh Pemda DKI yang dilaksanakan Jakpro atas nama program Revitalisasi TIM.
Selanjutnya, Gubernur Anies harus segera mencabut ketentuan tentang pemberian wewenang pada Jakpro sebagai pengelola TIM berapapun kurun waktunya.
Menghentikan segala bentuk revitalisasi, atau apapun itu terminologi yang digunakan, sebelum ada pembicaraan yang komprehensif dengan seniman, budayawan, pekerja budaya sebagai pemangku kepentingan.
Forum Seniman Peduli TIM juga meminta para pejabat negara dan pejabat publik, baik di pusat maupun daerah, terutama DKI Jakarta, agar mengubah cara pandang mereka yang keliru dan menyesatkan tentang makna, peran dan fungsi seni dan kebudayaan dalam sejarah bangsa ini.
“Posisikan kembali kebudayaan sebagai pondasi dari pembangunan bangsa dan negara di seluruh dimensinya. Dan membangun infrastruktur yang dibutuhkannya sebagai obligasi konstitusional sekaligus sebagai investor bangsa,” ujar Ajib.
AYO BACA : Jumat Besok, Seniman #SaveTIM Kembali Gelar Silent Movement

Share this article
Para seniman, budayawan, pekerja budaya serta pegiat seni budaya yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menentang keras perobohan gedung Graha Bakti Budaya yang lantas hendak digantikan dengan hotel dan bisnis.