JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM--Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah barang elektronik (e-waste) karena bisa mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan.
“Masyarakat harus mengetahui benda apa saja di rumah mereka yang termasuk sampah elektronik. Jangan sampai di buang sembarangan karena kan termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun),” kata Kepala Seksi Pengelolaan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rosa Ambarsari di Jakarta, Selasa (21/5/2019).
Rosa mengatakan, belum semua masyarakat tahu dan paham bahwa sampah elektronik tidak hanya berdampak terhadap pencemaran lingkungan namun bisa berdampak terhadap kesehatan jika tidak diolah dengan benar, seperti pembakaran.
Selain mengedukasi masyarakat, DLH DKI Jakarta yang sudah memulai program pengolahan e-waste pada Maret 2017, kini telah menyediakan sarana untuk mengumpulkan sampah elektronik.
Sarana tersebut berupa pengumpulan melalui kotak sampah elektronik (drop box e-waste) yang tersebar di 30 titik, pengumpulan melalui suku dinas lingkungan hidup dan layanan jemput.
“Drop box ada di 10 halte busway, Stasiun Kereta Api Juanda dan Cikini, balai kota, saat 'car free day' di Bundaran HI, sekolah dan kantor. Kalau ada kantor yang minta drop box, juga bisa kita kasih,” kata Rosa.
Selain itu layanan jemput untuk yang ukuran besar seperti TV dan mesin cuci yang berat, bisa dilakukan dengan mengisi form di website, lalu membuat perjanjian untuk dijemput.
Rosa mengatakan, sampah elektronik yang telah dikumpulkan akan disimpan sementara di gudang yang ada di DLH DKI Jakarta. Nantinya, e-waste tersebut akan dikelola oleh pihak ketiga yang sudah diberi ijin pengolahan sampah elektronik oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH).
“Ini dilakukan untuk menghindari pengolahan e-waste illegal dengan alat dan bahan pengolahan seadanya yang justru membahayakan orang tersebut,” katanya.
Menurut data DLH DKI Jakarta, jumlah e-waste yang paling banyak diterima berasal dari pengumpulan Suku Dinas (sudin) Lingkungan Hidup. Pada 2017, sudin menyumbang sebanyak 12.722 sampah elektronik dan meningkat sebanyak 27.610 pada 2018.
Sedangkan menurut Rosa Ambarsari, jumlah sampah elektronik pada 2019 semakin meningkat karena gudang penyimpanan sudah melebihi kapasitas. Meski begitu, dirinya baru akan mengetahui angka pasti jumlah e-waste setelah dilakukan pengangkutan oleh pihak pengelola pada Juli mendatang.
Berdasarkan data dari UNEP (Program Lingkungan Hidup PBB), masyarakat dunia menghasilkan 44,7 juta ton sampah elektronik pada 2016 dan terus meningkat 3 persen hingga 4 persen setiap tahunnya. Diperkirakan pada 2021, jumlah sampah elektronik mencapai 52 juta ton.

Share this article
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah barang elektronik (e-waste) karena bisa mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan.