AYOJAKARTA.COM – Hingga menjelang usia yang ke lima abad, perayaan HUT kota Jakarta ke-498 masih tetap menyisakan berbagai macam persoalan bagi warga Betawi.
Selain beragam permasalahan yang berakar pada identitas kebudayaan, HUT ke-498 kota Jakarta juga masih menyimpan potensi pergeseran nilai-nilai masyarakat Betawi.
Salah satu dampak dari terjadinya deviasi persepsi tersebut, perayaan HUT Jakarta ke-498 belum sepenuhnya membuat warga Betawi merasa dianggap atau diakui.
Pandangan terkait masih adanya sejumlah hal esensial yang perlu dibenahi, disampaikan oleh seniman Mandra saat menjadi narasumber di sebuah acara.
Lahir dari pasangan Naih Warna dan Manih yang merupakan Pegiat Kesenian Topeng, pemilik nama lengkap Mandra Yusuf Sulaiman Naih menilai budaya Betawi mulai mati suri.
Salah satu penyebab menurunnya kesadaran budaya Betawi, menurut keponakan Bokir ini terjadi karena minimnya ruang untuk berekspresi.
Menjadi bagian dari peradaban besar Indonesia, Mandra melihat masyarakat kesulitan untuk membedakan antara budaya Betawi dan budaya Jakarta sebagai kota metropolitan.
Berbeda dengan era kepemimpinan Ali Sadikin yang memberi ruang bebas bagi seniman Betawi, hal tersebut justru kurang terwujud di masa kini.
Berkaca pada era terdahulu, Seniman Betawi saat ini justru mengalami banyak tekanan hingga terkesan termarjinalkan.
Meski secara pribadi dekat dengan Rano Karno yang kini menjabat Wakil Gubernur Jakarta, Mandra hingga hari ini masih belum melihat adanya perluasan spektrum kebudayaan.
“Rano-nya kenal Gue, tapi kalo mewakili Gubernurnya nggak, kalau sekarang dipilih, yang dekat sama Kekuasaan dapat kesempatan,” keluh Mandra.
Baca Juga: SPMB Jakarta 2025 Dibuka! Panduan Lengkap Daftar Jalur KJP Plus, PIP, dan Mitra Trans Jakarta
Pernah mencoba peruntungan sebagai Anggota Caleg dari Partai Amanat Nasional, Mandra berharap pejabat saat ini bisa lebih aspiratif dengan berbagai jenis kesenian Betawi.
Upaya pelestarian budaya Betawi, menurut Mandra bukan hanya dijadikan sebagai pemanis atau ikon yang dimunculkan setiap tanggal 22 Juni pada setiap perayaan HUT kota Jakarta.
Menurut Sejarawan JJ Rizal, salah satu akar persoalan yang terjadi pada masyarakat Betawi adalah adanya tumpang-tindih dari corak kultural ke administrasi regional.
Pengelompokkan masyarakat Betawi sebagai pelaku utama budaya, menurut JJ justru bertolak belakang dengan pemetaan secara administratif.
Betawi sebagai budaya memiliki cakupan spektrum yang melebihi batas-batas wilayah administratif pemerintahan, sehingga budaya Betawi tersebar di kawasan Jabodetabek.
Adanya pemetaan administratif yang membatasi antara Jakarta dengan kota-kota lain di sekitarnya, menimbulkan potensi friksi dan pergeseran budaya Betawi dan Jakarta.
Sehingga masyarakat modern saat ini cenderung kesulitan untuk membedakan antara budaya Betawi yang sejati dengan Jakarta, tempat Ibukota negara pernah disandang. ***

Share this article
HUT Jakarta ke-498 dinilai tak akomodatif bagi warga Betawi; budaya Betawi makin tersisih di tengah modernisasi dan batas administratif.