AYOJAKARTA.COM –- Dalam hidup, manusia tak bisa lepas dari berbagai macam masalah.
Sering kali manusia dihadapkan dengan suatu peristiwa yang membuatnya tidak nyaman.
Seperti misalnya ada orang lain yang berbuat jahat, hal tersebut tentu akan terekam pada memori ingatan manusia.
Meski sudah memaafkan orang jahat tersebut, tetap saja ingatan tentang kejahatan orang tersebut akan tersimpan dalam ingatan.
Setiap manusia pasti pernah ada dalam masa ingin melupakan memori buruk yang diingatnya.
Bahkan, pasti ada manusia yang berusaha sekuat tenaga untuk melupakan memori buruk yang dialaminya.
Kadang, manusia menganggap memori buruk yang masih tersimpan dalam ingatan mereka adalah bagaikan mimpi buruk.
Banyak manusia yang beranggapan bahwa memori buruk tidak seharusnya tersimpan dalam ingatan.
Berbeda dengan Aisah Dahlan yang menjelaskan bahwa memori buruk tidak bisa dilupakan.
Aisah Dahlan adalah seorang Dokter sekaligus seorang Konsultan Penanggulangan dan Penyalahgunaan Narkoba.
Ia juga merupakan seorang Hipnoterapis Klinis dan juga praktisi neuroparenting skill.
Selain itu, Aisah Dahlan juga dikenal sebagai sosok ustazah yang beberapa waktu terakhir jadi perbincangan publik.
Sebab bisa memaafkan tapi tak bisa melupakan Aisah Dahlan
Menurut Aisah Dahlan, memori buruk tetap tersimpan dalam ingatan karena merupakan sebuah pembelajaran.
“Dari ilmu otak itu yang diminta adalah forgiveness, bukan forget. Kenapa tidak dilupakan, karena Allah memang mau kita nggak boleh melupakan peristiwa-peristiwa itu supaya jadi pembelajaran,” kata Aisah dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Pecinta dr Aisah Dahlan, CHt.
Aisah pun kemudian memberikan suatu contoh kasus mengenai bisa memaafkan akan tetapi tidak bisa melupakan.
“Suami kita marah nih gara-gara misalnya dia datang kita nggak sambut, waktu suami marah kita kan kesel ya, terus kita maafkan, ya Allah maafkan suamiku ya Allah, kan udah memaafkan yang diminta itu kan memaafkan supaya kita tetap gembira tetap bisa senyum sama suami,” terangnya.
“Tapi bahwa memori kita si suami marahin kita gara-gara kita tidak sambut tetap ada, supaya buat belajar, bahwa oh iya suami itu datangnya sekitar jam 5 maka kalau ada apa-apa termasuk ada zoom online segala macam kita tinggalkan aja dulu, kan buat belajar itu,” sambungnya.
Aisah kemudian menjelaskan manusia sudah diciptakan agar tidak lupa dengan hal-hal yang bisa menjadi pembelajaran.
Ia pun menegaskan bahwa memaafkan seseorang bukan berati kita melupakan apa yang dilakukan orang tersebut.
“Karena kalau sampai lupa peristiwanya besok terulang lagi nanti, makanya mengapa memori itu Allah buat sedemikian rupa agar tidak ingat, tidak lupa, nggak boleh lupa, nanti menyesal kalau lupa,” jelasnya.
“Jadi sekali lagi memaafkan bukan berarti melupakan, dan memaafkan bukan berarti juga menyetujui perbuatan yang kita tidak suka itu. Terima dulu bahwa memaafkan bukan berarti melupakan karena untuk pembelajaran,” tutupnya.***(Nisrina Harum Lestari)

Share this article
Seperti misalnya ada orang lain yang berbuat jahat, hal tersebut tentu akan terekam pada memori ingatan manusia.