AYOJAKARTA.COM — Ketika di Bulan Ramadan, seluruh umat Muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan penuh.
Puasa merupakan ibadah yang mewajibkan umat Muslim untuk menahan lapar dan haus serta hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Selain indentik dengan puasa, Bulan Ramadan juga sangat identik dengan mudik menjelang hari raya Idul Fitri.
Baca Juga: Nikmatnya Kuliner Santap Sahur di Sabang Jakarta Pusat, Ada Menu Nasi Goreng Gila!
Mudik sendiri biasa dilakukan oleh seorang perantauan untuk pulang ke kampung halaman.
Biasanya mudik dilakukan beberapa hari menjelang hari raya Idul Fitri, sehingga tidak jarang orang akan mudik dalam keadaan puasa.
Lantas bagaimana hukum seorang yang mudik atau bepergian ketika sedang menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadan?
Dilansir AyoJakarta.com dari YouTube Al-Bahjah TV pada Rabu, (29/3/2023), Buya Yahya menjelaskan bahwa orang yang sedang bepergian atau mudik atau biasa disebut dengan musafir maka tidak diwajibkan puasa.
Baca Juga: Akhirnya Raffi Ahmad Menikah Dengan Mimi Bayuh! Nagita Slavina Sudah Kasih Restu? Cek Faktanya!
Buya Yahya menerangkan bahwa orang bepergian yang tidak diwajibkan untuk puasa harus menempuh jarak tidak boleh kurang dari 80 kilometer.
“Tujuan dari bepergiannya tidak boleh kutang dari 80 kilometer, misalnya dari Indramayu mau ke Semarangnmaka di perjalanan boleh berbuka, tidak wajib puasa,” katanya.
Buya Yahya mengatakan apabila dalam bepergian kita mampu untuk menjalankan puasa maka kita dipersilahkan untuk berpuasa.
Tetapi, kalau kita merasa puasa membuat kita tidak nyaman selama bepergian maka tidak diwajibkan untuk berpuasa.
Beliau mengatakan, meskipun tidak diwajibkan untuk berpuasa, setelah selesai Bulan Ramadan maka kita wajib membayar hutang puasa tersebut.
“Cuman mana yang lebih bagus bagi dia tergantung, kalau memang puasa nyaman maka dipersilahkan untuk puasa tetapi kalau tidak kuat atau tidak nyaman maka jangan puasa,” kata Buya Yahya.
“Jadi kalau anda bepergian anda diperbolehkan untuk berbuka puasa, cuman nanti harus dibayar hutang puasanya,” sambunyanya.
Baca Juga: Mesra! Sandiaga Uno Terciduk Habiskan Waktu Jelang Buka Bersama Prabowo, Benar Bahas Pilpres 2024?
Selain itu, Buya Yahya menyebutkan apabila kita kedatangan tamu dari jauh maka kita harus menanyakan kepada tamu tersebut apakah esok hari akan puasa atau tidak.
Jika tamu tersebut akan menunaikan puasa, maka kita wajib membangunkan sahur.
Tetapi apabila tamu tersebut tidak puasa, maka kita juga berkewajiban untuk memberikan sarapan.
“Kalau kedatangan tamu dari tempat yang jauh, gak boleh anda maksa untuk puasa, jadi malam hari diingatkan dan tanyakan apakah dia puasa atau tidak, kalau puasa maka bangunkan sahur tetapi jika tidak maka buatkan sarapan,” sebut Buya Yahya.
“Kalau kedatangan tamu dari jauh dan tidak berpuasa maka boleh kita buatkan makanan untuk dia karena memang dia tidak wajib puasa,” pungkasnya.***

Share this article
Bagaimana sih soal hukum orang bepergian perjalanan, apakah boleh tidak puasa? Langsung simak kata Buya Yahya di bawah ini yuk!