TEBET, AYOJAKARTA – Para wanita Indonesia mungkin sudah tidak asing lagi dengan merk kosmetik seperti Wardah, Emina, atau Make Over. Siapa sangka terdapat wanita tangguh di belakang lahirnya merk-merk terkenal tersebut.
Wanita tangguh itu bernama Nurhayati Subakat, seorang lulusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1971. Dia merupakan pendiri dan komisaris utama PT Paragon Technology, perusahaan yang mengeluarkan tiga produk ternama itu.
Berbagai jalan terjal selama bertahun-tahun telah dilewati olehnya. Bahkan, Nurhayati sempat bercerita pada 1990, pabrik dan kantornya mengalami kebakaran hebat.
Nurhayati juga merupakan sosok yang peduli dengan dunia pendidikan Indonesia. Kepeduliannya itu ditunjukkan dalam berbagai program bantuan perusahaannya melalui Corporate Social Responsibilty (CSR), seperti pelatihan pengajar dan pelajar, serta berbagai beasiswa.
Berawal Dari Usaha Rumahan Dengan Dua Karyawan
Nurhayati memulai bisnisnya dari usaha rumahan kosmetik pada tahun 1985. Saat itu, dia hanya memiliki dua karyawan yang berlatarbelakang asisten rumah tangga.
Berbekal latarbelakang pendidikan farmasi dan lima tahun pengalaman bekerja di salah satu perusahaan kosmetik multinasional, Nurhayati memutuskan untuk mendirikan perusahaan pada tahun 1985.
Pada saat itu, perusahannya diberi nama PT Pusaka Tradisi Ibu. Dalam memulai usahanya, Nurhayati berpegang teguh pada nilai inovasi. Menurutnya, inovasi berarti membuat sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin.
“Tidak sampai satu tahun, hampir semua salon di daerah Tangerang mengambil produk kami. Perusahaan berkembang lumayan bagus. Tahun 1990 kami mempunyai 25 orang karyawan,” cerita Nurhayati soal lahirnya produk pertamanya bernama ‘Putri’.
Bangkit Demi Hidupi Karyawan
Lima tahun berselang, perusahaannya sudah mempunyai mempunyai 25 orang karyawan dari yang tadinya hanya memiliki dua orang. Namun, sebuah musibah datang pada tahun 1990 dimana pabrik dan kantornya mengalami kebakaran.
Akibat kebakaran itu, kata Nurhayati, kondisi keuangan perusahaannya minus karena masih memiliki utang usaha. Sedangkan piutang, tidak dapat ditagih karena terbakarnya dokumen administrasi, sehingga banyak took yang tidak mau membayar.
Pada saat itu, Nurhayati berpikir untuk menutup usahanya. Namun, pikiran itu dia urungkan karena mengingat nasib para karyawannya.
“Kalau saya memikirkan diri sendiri, sebetulnya lebih baik tutup, kaena suami saya masih bekerja dengan gaji lebih dari cukup. Saya memutuskan bangkit karena melihat karyawan-karyawan saya yang berjumlah 25 orang itu,” jelas Nurhayati saat menjadi pembicara di Fellowship Jurnalisme Pendidikan bersama GWPP beberapa waktu lalu.
Teguh Pada 5 Karakter Hidup
Dalam perjalanan dan perjuangan panjang yang telah dilalui oleh Nurhayati, dia menemukan lima karakter utama yang terbentuk dan selama ini membantunya. Dia mengatakan, ke-lima karakter ini sudah dipupuk oleh orangtuanya sewaktu Nurhayati masih kecil.
Lima karakter ini juga yang dia terapkan dalam membangun PT Paragon, yang hingga saat ini dapat menghidupi 12.000 karyawan.
Karakter pertama yaitu Ketuhanan. Tidak hanya sebagai nilai utama yang dipegang oleh setap manusia, Nurhayati juga konsisten dalam menjaga kejujuran, tanggungjawab, dan dapat dipercaya.
Karakter kedua yaitu Kepedulian, dimana menurutnya karakter ini membuat manusia senantiasa ingin member manfaat dan memberikan inspirasi positif kepada sesame dan lingkungannya dalam setiap aktivitas.
Karakter ketiga yaitu Kerendahan hati. Nurhayati menyampaikan, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, dimana karakter ini diperlukan untuk selalu belajar dimana saja dan dari siapa saja.
Karakter keempat yaitu Ketangguhan. Dia menilai setiap manusia harus berani untuk melangkah dan tidak takut untuk mencoba hal yang tidak biasa, sabar dalam menjalaninya, dan pantang menyerah untuk mencapai tujuan.
Karakter kelima yaitu Inovasi. Seperti di awal mendirikan perusahaan, Nurhayati mengingat bahwa inovasi diperlukan untuk menciptakan terobosan baru untuk menjadi yang terdepan.
“Semangat inovasi untuk selalu mengembangkan hal baru yang lebih baik untuk memenuhi dan melampaui harapan orang lain, juga menjadi karakter yang sangat penting bagi saya,” ujar perempuan yang menerima anugerah Gelar Doktor Honoris Causa ITB pada 2019 itu.

Share this article
Nurhayati Subakat pendiri dan komisaris utama PT Paragon Technology, perusahaan yang mengeluarkan tiga produk ternama itu.