JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM -- Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 Partai Golkar semakin disorot publik setelah pengunduran diri Bambang Soesatyo alias Bamsoet sebagai calon ketua umum.
Muncul spekulasi bahwa pengunduran diri Bamsoet itu berkat campur tangan orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo. Sebab, Bamsoet merupakan satu-satunya kandidat kuat penantang petahana Airlangga Hartarto.
Bukan cuma Bamsoet, sejumlah kandidat lain menyatakan mundur dari bursa calon Ketua Umum Partai Golkar, seperti Agung Gunanjar, Achmad Annama dan Indra Bambang Utoyo. Kini, hanya tersisa dua nama yaitu Airlangga Hartarto dan Ridwan Hisyam.
Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Provinsi DKI Jakarta, Gaya Kartasasmita, mengatakan, mundurnya empat kandidat itu sejatinya menjadi pelajaran bagi kader millenial Golkar.
Gaya menilai keputusan Bamsoet dan sejumlah nama lain merupakan langkah konkret yang tidak mementingkan egostruktural.
"Dengan menunjukkan sikap yang harmonis dan humanis dalam menjaga soliditas partai, ini sangat bagus dan patut menjadi contoh bagi kami sebagai junior atau generasi penerus. Mengedepankan nilai luhur dalam menjaga kesatuan, karena kami adalah bagian dari keluarga besar Golkar," kata Gaya dalam keterangan persnya, Rabu (4/12/2019).
Gaya menyampaikan, memang sudah seharusnya tokoh Golkar menunjukkan kedewasaan politik demi menjaga marwah partai sekaligus etika berpolitik. Kedewasaan yang dimaksud adalah membuat ide terobosan yang inovatif dan kreatif, menyelaraskan komitmen Presiden Jokowi dalam pengembangan industri kreatif.
Ia melanjutkan, musyarawarah mufakat dalam pesta demokrasi internal partai akan memacu kedewasaan politik kader muda di masa depan.
"Jadi, kita sebagai kader muda Golkar berterima kasih atas seluruh pencapaian kepakatan yang terjalin di Munas ke-10, karena ini semua akan menjadi bekal sepak terjang kami di Pilkada dan pemilihan legislatif mendatang," pungkas Gaya.

Share this article
Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Provinsi DKI Jakarta, Gaya Kartasasmita, mengatakan, mundurnya empat kandidat itu sejatinya menjadi pelajaran bagi kader millenial Golkar.