JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sampai saat ini, korban gempa Magnitudo 6,5, yang mengguncang Kabupaten Maluku Tengah pada Kamis 26 September 2019, masih bertahan di tempat pengungsian.
Selain karena rumahnya rusak, warga juga masih trauma karena gempa-gempa susulan terus terjadi. Namun, letak pengungsian yang berada di perbukitan membuat para pengungsi sulit memenuhi kebutuhan harian, terutama air. Seperti yang terjadi di Desa Wainuru, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.
Anggota tim Disaster and Emergency Response (DERM) Aksi Cepat Tanggap (ACT), Lukman Solehuddin, menjelaskan, setiap hari warga mesti mengantre untuk mengambil air konsumsi dan air sanitasi. Untuk mendapat air saja mereka mesti menampung air dari pipa PDAM yang bocor karena tidak ada sumber air lain. Pipa itu melintang di sepanjang perbukitan.
“Para penyintas kini memanfaatkan pipa air PDAM yang bocor untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka. Mereka mengambilnya menggunakan jeriken dan membawanya ke bukit-bukit tempat mereka mendirikan tenda pengungsian,” kata Lukman beberapa waktu lalu.
Warga pengungsi juga bertahan dengan peralatan seadanya, misalnya menggunakan terpal-terpal bekas untuk membuatnya menjadi tenda darurat. Sanitasi yang sulit ditambah kondisi pengungsian tak layak membuat kesehatan warga menjadi rentan terhadap penyakit.
ACT melakukan aksi pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi hal tersebut. Selain mendirikan posko layanan kesehatan, tilm layanan kesehatan ACT juga berpindah dari satu titik ke titik pengungsian lainnya.
Dokter Wiwi Padudung dari tim medis ACT yang bertugas, mengatakan, kebanyakan pasien menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gatal-gatal dan diare.
"Kebanyakan pasien yang menderita ISPA dan gatal-gatal itu anak-anak, kemudian ada juga diare. Itu terjadi karena keadaan yang tidak memungkinkan atau dapat dikatakan kurang layak bagi mereka. Lalu kondisi kebersihan yang sudah tidak terjaga," kata Wiwi.
Mengacu pada data tim ACT di lapangan, jumlah pengungsi yang bertahan sampai hari Minggu lalu (6/10/2019) adalah sekitar 135.000 jiwa warga. Warga memilih bertahan di lokasi pengungsian dan belum bersedia kembali ke rumah mereka karena gempa susulan yang terus terjadi, bahkan hingga 1.105 kali, dan 118 di antaranya dapat dirasakan. Salah satunya gempa berkekuatan M 5.2 yang terjadi kemarin siang.
Aksi Cepat Tanggap mengajak Sahabat Dermawan untuk memberikan bantuan terbaik untuk bersama-sama mengatasi bencana gempa Maluku. Bantuan dapat dikirimkan melalui BRI # 207101000198303 a.n. Aksi Cepat Tanggap.

Share this article
Para penyintas kini memanfaatkan pipa air PDAM yang bocor untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka.