JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Aktivis kemanusiaan juga pembuat film dokumenter, Dandhy Dwi Laksono, menyatakan terima kasihnya kepada semua orang yang mendukungnya dalam menghadapi jeratan hukum.
Kemarin, oleh Polda Metro Jaya, Dandhy ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian yang melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pembuat film dokumenter dan pendiri Watcdoc itu diduga memprovokasi masyarakat dalam isu-isu terkait Papua melalui media sosial.
"Terima kasih untuk dukungan dan solidaritas kawan-kawan, baik yang selama ini sepemikiran, maupun yang berbeda pandangan, namun menempatkan prinsip kebebasan berpendapat lebih tinggi dari perbedaan itu sendiri," kata Dandhy melalui halaman media sosial pribadinya.
" Mari berdampingan melanjutkan #ReformasiDikorupsi dan 7 desakannya," ajak Dandhy.
Tentang kasus hukumnya terkait Papua, menurut Dandhy, jika masyarakat benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Wamena atau Papua secara umum, maka tidak ada cara lain selain ikut mendesak negara untuk membuka seluas-luasnya akses bagi jurnalis, baik lokal maupun internasional, dengan memberi ruang bagi mereka untuk melakukan peliputan secara independen.
AYO BACA : Jokowi Nyatakan Komitmen pada Demokrasi, Mahasiswa Ditembak Mati, Dua Pengkritik Pemerintah Diciduk
Membatasi akses internet di satu sisi, namun hendak memonopoli informasi di sisi lain, tidak akan membantu meredakan ketegangan. Desas-desus akan lebih mudah menyebar dari mulut ke mulut tanpa dapat ditelusuri sumbernya. Sebab mulut bagaimana pun tidak punya jejak digital.
Ia melanjutkan, hari-hari terakhir banyak mahasiswa Papua kembali ke kampung halamannya karena merasa terancam. Lalu disusul warga pendatang di Wamena keluar dari Papua, juga karena terancam. Keduanya punya akar masalah dan akar sejarah yang kompleks, dan harus dibicarakan terbuka, dipimpin oleh negara.
"Hampir tiga jam saya berdebat dengan politisi Budiman Sudjatmiko tentang Papua untuk memberikan gambaran kasar, seberapa dalam dan kompleksnya masalah ini. Baik secara politik vertikal antara Papua dengan Indonesia, maupun sosial horizontal antar-sesama manusia," lanjutnya, merujuk pada debat terbukanya dengan Budiman pada Minggu lalu.
Dalam situasi seperti ini, tambah Dandhy, mencari kambing hitam adalah hal paling gampang. Hal tersebut terjadi pada aktivis-aktivis di Papua sejak lama.
"Terjadi pada Veronica Koman, terjadi pada saya, dan akan terus terjadi pada siapa saja. Sekali lagi terima kasih untuk dukungan dan solidaritasnya," tutup Dandhy.
AYO BACA : Dandhy Tersangka Ujaran Kebencian Karena Pendapatnya Terhadap Isu Papua

Share this article
Dalam situasi seperti ini, tambah Dandhy, mencari kambing hitam adalah hal paling gampang.