AYOJAKARTA.COM -- Pagelaran wayang merupakan salah satu budaya di Indonesia yang sudah ada turun temurun sejak dahulu kala.
Pagelaran wayang biasanya dilakukan semalam suntuk untuk menyelesaikan sebuah cerita yang diceritakan oleh dalang.
Anies Baswedan secara mengejutkan hadir di sebuah Pagelaran Wayang Kulit yang digelar di Lapangan Desa Bancar, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Baca Juga: Koalisi Perubahan Endus Akan Ada Penjegalan Kepada Anies Baswedan, Siapa Pelakunya?
Mengikuti pagelaran dari awal hingga akhir sejak Selasa, 23 Mei 2023 malam, Anies Baswedan bagikan pengalamannya melalui media sosial Twitter miliknya, dikutip oleh AyoJakarta.com pada 24 Mei 2023.
Bahkan diketahui bahwa ia menjadi pembina dalam sebuah komunitas. 7 tahun menjadi pembina Komunitas Pelestari Budaya Nusantara, Anies Baswedan bersama komunitas berhasil melaksanakan pagelaran wayang kulit dengan meriah dan mendapatkan antusiasme tinggi dari masyarakat sekitar.
Melalui akun Twitter miliknya, Anies ungkapkan bahwa sebuah pagelaran wayang kulit, bukanlah hiburan yang sarat akan makna budaya biasa, namun juga kaya akan tuntunan, setiap diadakan selalu menggerakkan perekonomian rakyat kebanyakan.
Tidak hanya itu, rasa syukur atas antusiasme dan kelancaran acara juga dituliskan sosok Bakal Calon Presiden dari Kolasi Nasdem.
“Alhamdulillah kami senang sekali dapat mengikuti pagelaran wayang semalam suntuk bersama masyarakat di Lapangan Desa Bancar, Kecamatan Bungkal, Ponorogo,” jelas Anies Baswedan.
Anies Baswedan menjelaskan bahwa pagelaran wayang kulit tersebut menampilkan cerita atau lakon Dewa Ruci yang dengan sempurna dibawakan oleh sosok Dalang kenamaan Indonesia, KRT Yatno Gondo Darsono.
Lakon atau cerita tersebut bahkan dihubungkan dengan kegiatan sosok Anies Baswedan yang sedang melakukan tirakat, yaitu proses menahan hawa nafsu menurut islam.nu.or.id atau menurut khazanah pesantren tirakat diserap dari kata thariqah yang berarti jalan.
Thariqah, tarekat, dan selanjutnya menjadi tirakat mempunyai arti tata cara atau jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
“Di mana kami berproses melewati berbagai tantangan demi menemukan dan menyerap apa yang menjadi aspirasi, masukan dan kebutuhan masyarakat, mirip dengan Werkudara yang menyelami samudra dengan berbagai tantangan untuk menemukan air tirta merta,” cuit Anies mengutip lakon Dewa Ruci.
Bahkan, menurut Anies Baswedan tirakat juga dilakukan oleh masyarakat pewayangan di mana mereka ke depan membutuhkan negara yang menjadi pengayom, yang melindungi penghidupan, serta kehidupan ekosistem pewayangan.
“Sehingga kesenian wayang beserta para pelakunya bukan saja lestari, juga terus berkembang mengikuti perubahan dan dapat bertahan lintas zaman, lintas generasi,” tutup Anies Baswedan.
Melalui pagelaran wayang tersebut Anies lebih dekat dengan masyarakat dalam menyaksikan Lakon Dewa Ruci yang sarat akan makna dan mendapatkan tanda kenang-kenangan.
Selain itu, antusiasme pagelaran wayang tersebut cukup tinggi, dimana banyak warganet berkomentar menonton pagelaran wayang tersebut secara online karena jarak dan sangat terhibur atas acara tersebut.***(Zharifah Ardiana)

Share this article
Pagelaran wayang biasanya dilakukan semalam suntuk untuk menyelesaikan sebuah cerita yang diceritakan oleh dalang.