AYOJAKARTA.COM - Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat upaya pengendalian pencemaran udara melalui pengembangan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) kualitas udara yang dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kehadiran sistem EWS ini diharapkan mampu memberikan informasi prediktif mengenai kondisi kualitas udara di Ibu Kota.
Sehingga masyarakat bisa mengambil langkah antisipatif sebelum tingkat polusi mencapai kategori yang berisiko bagi kesehatan.
Pengembangan EWS menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI dalam memperluas akses informasi lingkungan yang lebih cepat, akurat, dan mudah dipahami masyarakat.

Selain membantu warga dalam merencanakan aktivitas sehari-hari, sistem ini juga diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam menyusun langkah mitigasi ketika potensi pencemaran udara meningkat.
Sistem prakiraan ini dikembangkan BMKG melalui teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial bernama SILAM Urban yang mampu memetakan kondisi polusi udara secara rinci hingga radius satu kilometer dengan cakupan seluruh 44 kecamatan di Jakarta.
SILAM Urban akan dikembangkan menggunakan data inventori emisi lokal, mulai dari emisi sektoral hingga emisi polutan.
Melalui dukungan data inventori emisi lokal, sistem bisa menghasilkan prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan spesifik untuk wilayah Jakarta.

“Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujar Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C Nahas.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi menambahkan, pengembangan EWS kualitas udara adalah bagian dari langkah strategis Pemprov DKI untuk memperkuat upaya pencegahan pencemaran udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.

Sistem ini akan menjadi instrumen penting dalam upaya mitigasi.
Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari sebelumnya, pemerintah bisa mengambil langkah untuk menyiapkan penanganan yang diperlukan.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” jelas Dudi.
Ia mengatakan bahwa kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharap bisa menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat.***

Share this article
Kehadiran sistem EWS ini diharapkan mampu memberikan informasi prediktif mengenai kondisi kualitas udara di Ibu Kota.