AYOJAKARTA.COM -- Persoalan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan terbesar di kawasan metropolitan Bandung Raya segera memasuki babak baru. Pemerintah bersama PT PLN (Persero) tengah mematangkan langkah strategis untuk memulai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka yang berlokasi di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Proyek infrastruktur hijau ini tidak hanya dirancang sebagai solusi mutakhir bagi pemulihan lingkungan, tetapi juga diproyeksikan mampu menghasilkan energi listrik bersih dengan kapasitas mencapai 40 megawatt (MW).
Kapasitas produksi energi sebesar itu dinilai sangat signifikan untuk memperkuat keandalan pasokan listrik di tingkat regional. Daya sebesar 40 MW tersebut bahkan dikalkulasikan cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik satu wilayah kabupaten yang memiliki tingkat aktivitas industri skala kecil. Dengan demikian, megaproyek ini menempati posisi strategis dalam menyatukan dua agenda besar nasional, yakni akselerasi penanganan krisis sampah perkotaan sekaligus memperkokoh ketahanan energi berbasis energi baru terbarukan (EBT).
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT), Kishartanto Purnomo Putro, memastikan seluruh proses koordinasi utama antar-pemangku kepentingan telah berjalan sesuai rencana. Saat ini, persiapan di lapangan terus dikebut agar proyek infrastruktur energi hijau tersebut dapat segera memasuki tahapan konstruksi fisik dalam waktu dekat.
"Groundbreaking dalam waktu dekat, tahun ini," ujar Kishartanto di Kantor UIP JBT Jalan Karawitan No 32 Kota Bandung, Senin (29/6/2026).
Dalam penjelasannya, Kishartanto mengemukakan bahwa fasilitas pengolahan ini akan mengadopsi teknologi waste to energy mutakhir asal Jepang. Teknologi tersebut memiliki keunggulan tinggi dalam mengonversi volume sampah yang masif menjadi energi listrik secara efisien, optimal, serta tetap menjaga parameter ramah lingkungan. Penerapan sistem modern ini diharapkan dapat meminimalkan emisi gas buang sekaligus memutus mata rantai penumpukan sampah konvensional di tempat pembuangan akhir.
Lebih dari itu, pembangkit ini akan menghasilkan 40 MW listrik, kapasitas yang dinilai mampu melistriki satu wilayah kabupaten dengan kebutuhan industri yang tidak terlalu besar. Artinya, sampah yang selama ini menjadi persoalan perkotaan justru akan berubah menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi. Melalui pendekatan ekonomi sirkular ini, residu aktivitas domestik masyarakat dialihkan menjadi komoditas produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Pihak PLN menegaskan bahwa pasokan daya yang diproduksi oleh PLTSa Legok Nangka nantinya akan langsung diintegrasikan ke dalam sistem kelistrikan nasional. Langkah interkoneksi ini menjamin distribusi energi dapat dinikmati oleh masyarakat luas secara adil dan merata. Kendati demikian, PLN juga memberikan komitmen khusus bahwa masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah proyek tetap menjadi prioritas utama untuk merasakan dampak positif kehadiran pembangkit melalui program pembangunan jaringan distribusi yang dilakukan secara bertahap.
Di sisi lain, operasional pembangkit dengan kapasitas besar tentu menuntut manajemen rantai pasok bahan baku yang solid dan berkelanjutan. Agar mampu beroperasi optimal, PLTSa Legok Nangka membutuhkan pasokan sampah dalam jumlah besar. Kebutuhan bahan bakar pembangkit diperkirakan mencapai 1.800 hingga 2.100 ton sampah setiap hari. Target volume yang sangat besar ini memerlukan komitmen tinggi dari jajaran pemerintah daerah dalam hal tata kelola pengumpulan dan pemilahan sampah sejak dari hulu.
Kebutuhan tonase yang masif tersebut sebenarnya menjadi peluang emas bagi pemerintah daerah di Bandung Raya untuk mengatasi kejenuhan kapasitas daya tampung TPA yang ada saat ini. Mengingat kawasan Bandung Raya kerap dihadapkan pada lonjakan volume sampah rumah tangga dan area komersial seiring pertumbuhan populasi, kehadiran PLTSa Legok Nangka dinilai sebagai solusi jangka panjang yang paling rasional. Keberadaan fasilitas ini diproyeksikan mampu mereduksi penumpukan sampah secara signifikan setiap harinya.
Kendati menawarkan prospek yang menjanjikan, manajemen PLN tidak menampik adanya sejumlah tantangan teknis maupun nonteknis yang harus diantisipasi sejak dini. Aspek kontinuitas pasokan sampah menjadi salah satu tantangan yang harus dijaga agar pembangkit dapat beroperasi secara stabil. Pasalnya, fluktuasi pasokan bahan baku di lapangan berpotensi memengaruhi konsistensi daya listrik yang dihasilkan serta dapat mengganggu kinerja mekanikal komponen turbin pembangkit.
Menurut Kishartanto, tantangan utama pembangunan PLTSa justru bukan berasal dari teknologi pembangkit. Yang paling sulit adalah menentukan lokasi yang ideal. Penentuan titik koordinat fasilitas memerlukan kajian geospasial dan analisis dampak lingkungan yang mendalam agar keberadaan pabrik tidak menimbulkan konflik sosial maupun masalah lingkungan baru di kemudian hari.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa kedekatan geografis antara pusat pengolahan dan hulu logistik menjadi variabel penentu efisiensi operasional jangka panjang. PLTSa harus dibangun sedekat mungkin dengan sumber sampah atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Apabila lokasinya terlalu jauh, biaya operasional akan meningkat karena sampah harus kembali diangkut menggunakan armada truk menuju lokasi pembangkit.
"Kalau terlalu jauh dari sumber sampah akan muncul biaya logistik tambahan sehingga efisiensinya menurun," jelasnya.
Oleh karena itu, penyediaan lahan yang terintegrasi secara spasial dengan kawasan pembuangan akhir menjadi agenda krusial yang melibatkan sinergi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam pembagian peran kerja sama lintas sektor ini, PLN memegang tanggung jawab penuh dalam merancang, membangun, dan menyiapkan seluruh infrastruktur kelistrikan pendukung. Hal ini memastikan energi yang diproduksi dari pembakaran sampah dapat dievakuasi secara aman ke jaringan transmisi nasional.
Berdasarkan rencana induk kelistrikan, PLTSa Legok Nangka nantinya akan dihubungkan ke Gardu Induk (GI) 150 kV New Rancakasumba di Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung. Pemilihan gardu induk tersebut didasarkan pada pertimbangan jarak geografis yang relatif dekat, sekaligus posisinya yang berada di koridor strategis pertumbuhan industri regional. Jaringan ini terhubung langsung dengan pusat-pusat konsumsi listrik utama di wilayah Rancaekek hingga Majalaya yang padat aktivitas ekonomi.
Namun, PLN menyadari bahwa pembangunan infrastruktur kelistrikan tegangan tinggi ini membutuhkan proses yang matang dan kepatuhan terhadap regulasi. Pembangunan jaringan transmisi tidak bisa dilakukan secara instan. PLN harus melalui tahapan sosialisasi kepada masyarakat, pembebasan lahan, hingga pembangunan jalur transmisi sesuai ketentuan ruang bebas jaringan listrik (Right of Way/ROW) demi menjamin aspek keamanan lingkungan sekitar jalur kabel.
"PLN menyiapkan seluruh infrastruktur evakuasi daya, sedangkan penyediaan lahan pembangkit menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Semua dilakukan melalui kolaborasi," katanya.
Secara filosofis dan kebijakan makro, proyek PLTSa Legok Nangka merupakan bagian dari pengembangan pembangkit berbasis energi baru yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menyelesaikan persoalan sampah perkotaan. Proyek strategis nasional ini menjadi bukti konkret transisi energi di tingkat daerah yang memadukan prinsip keberlanjutan lingkungan dengan kemandirian energi modern.
Dengan memanfaatkan teknologi Jepang, proyek ini diharapkan mampu menghadirkan sistem pengelolaan sampah modern yang menghasilkan manfaat ganda, yakni lingkungan yang lebih bersih dan pasokan listrik yang berkelanjutan. Transformasi tata kelola limbah ini sekaligus mempertegas komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi karbon global. PLN pun memastikan seluruh skenario interkoneksi kelistrikan telah disiapkan secara matang semenjak dini, sehingga ketika pembangkit mulai beroperasi, energi dapat langsung masuk ke sistem PLN melalui GI Rancakasumba tanpa hambatan teknis.
Saat ini seluruh proses menuju pembangunan terus dipercepat. Groundbreaking dijadewalkan berlangsung dalam waktu dekat setelah seluruh kesepakatan utama diselesaikan. Tahapan konstruksi kemudian akan dilanjutkan secara bertahap dengan target awal pengoperasian sekitar 2028 dan penyelesaian penuh hingga 2030. Linimasa ini dijaga ketat melalui evaluasi berkala agar target pemanfaatan energi bersih dari sampah ini dapat terealisasi tepat waktu sesuai target perencanaan yang dicanangkan pemerintah.
Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, PLTSa Legok Nangka akan menjadi salah satu pembangkit listrik tenaga sampah terbesar di Indonesia yang tidak hanya membantu mengurangi ribuan ton sampah setiap hari, tetapi juga menghasilkan listrik bersih yang cukup untuk menerangi satu kabupaten. Keberhasilan proyek ini juga diharapkan menjadi model pengembangan waste to energy di berbagai daerah lain yang menghadapi persoalan serupa, yakni tingginya volume sampah sekaligus meningkatnya kebutuhan energi listrik di era modern.
Share this article
PLTSa Legok Nangka tidak hanya dirancang sebagai solusi mutakhir bagi pemulihan lingkungan, tapi juga diproyeksikan mampu menghasilkan energi listrik bersih dengan kapasitas mencapai 40 megawatt (MW).