AYOJAKARTA.COM - Muzdalifah adalah sebuah daerah terbuka diantara kota Mekkah dan Mina.
Secara istilah, Muzdalifah diambil dari kata Al-Izdilaf atau Ijtima yang berarti berkumpul. Jadi Muzdalifah bisa diartikan berkumpul atau bertamu.
Di tempat ini juga jemaah haji disunnahkan untuk mengumpulkan/menjama sholat maghrib dan isya kemudian bermalan hingga fajar datang.
Salah satu anggota Media Center Haji (MHC), Adi Ginanjar Maulana dari AyoBandung.com membagikan kisah haru dan bahagia saat menyambut jemaah haji di Muzdalifah.
MHC bertugas untuk meliput kegiatan jemaah haji dan juga melayani mereka selama di Muzdalifah.
Saat bertugas, Adi Ginanjar menyebutkan bahwa ia bersama rekan-rekannya berusaha untuk merapikan dan memastikan kenyamanan jemaah haji.
Selain itu, menurutnya pada saat itu Muzdalifah seperti Sauna Raksasa karena suhu di sana yang mencapai 34 derajat Celsius.
"Meskipun tempat yang tersedia terbatas, hanya beralaskan karpet dan beratapkan langit, kami berusaha sekuat tenaga untuk merapikan jemaah dan memastikan kenyamanan mereka," kata Adi dikutip dari AyoBandung.com pada Minggu, 11 Agustus 2024.
Baca Juga: Benarkah PKH dan BPNT Juli-September 2024 Tidak Lagi Dicairkan Pos Indonesia? Cek di Sini
"Malam itu, Muzdalifah bagaikan sauna raksasa. Suhu udara mencapai 34 derajat Celcius, tak jauh berbeda dengan terik matahari Jakarta di siang hari," lanjutnya.
Adi Ginanjar juga menyebutkan bahwa rekan-rekan MHC ikut melayani jemaah yang kepanasan dan kehausan setelah seharian berwukuf di Arafah.
Kemudian, di tengah malam waktu Arab Saudi, Maktab 14 yang ia jaga penuh dipadati oleh sekitar 5.000 jemaah haji.
Para jemaah haji tidak henti-hentinya melantunkan zikir dan do'a. Dimana itu menjadi momen yang khusyuk dan penuh kedamaian.
"Sekitar 5.000 jamaah memadati area maktab, tak henti-hentinya melantunkan zikir dan doa. Suasana khusyuk dan penuh kedamaian menyelimuti Muzdalifah," ucap Adi Ginanjar.
Adi Ginanjar dan rekan-rekan MHC juga harus mengkoordinir jemaah haji menuju ke Mina sebelum pukul 10.00 pagi.
Dimana ia harus dengan tenang dan sigap menjelaskan kepada jemaah haji bahwa semuanya akan mendapatkan giliran untuk ke Arafah.
Adi Ginanjar menuturkan bahwa pengalaman bertugas di Muzdalifah merupakan pengalaman yang sangat berharga.
"Pengalaman bertugas di Muzdalifah menjadi kenangan tak terlupakan bagi saya," ucapnya.
Selain haru dan bahagia, menurutnya bertugas di Muzdalifah juga mengajarkan arti kesabaran, keikhlasan, dan semangat pantang menyerah.
"Pengalaman ini mengajarkan arti kesabaran, keikhlasan, dan semangat pantang menyerah dalam melayani sesama, terutama di momen suci ibadah haji," tandasnya.***

Share this article
Saat bertugas, Adi Ginanjar menyebutkan ia bersama rekan-rekannya berusaha untuk merapikan dan memastikan kenyamanan jemaah haji.