AYOJAKARTA.COM - Kehilangan seseorang yang kita cintai tentu menjadi kesedihan yang mendalam.
Ada hati yang terluka dan kosong setelah merasakan kehilangan.
Terlebih jika kita kehilangan orangtua yang kita sayangi.
Baca Juga: Lepas Keberangkatan Jemaah Haji, Menag: Jangan Sungkan Hubungi Petugas
Tentunya akan butuh waktu lama untuk melupakan kesedihan saat kehilangan orangtua.
Kesedihan itu akan lebih mendalam jika dirasakan seorang anak ketika ia tidak bisa ikut mengantarkan jenazah orangtuanya ke tempat peristirahatan terakhir.
Hal ini dirasakan oleh seorang anak bernama Ahmad Fikri (36).
Baca Juga: Ciri Khas Jemaah Haji Indonesia 2023 Agar Mudah Dikenali, Kenakan Gelang Bertuliskan...
Saat orangtuanya meninggal diketahui tengah bertugas di luar negeri.
Ahmad Fikri, yang berasal dari Desa Wonorojo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur harus menelan kenyataan pahit ditinggalkan oleh sang ayah tercinta.
Pada saat ayahandanya, H. Taufik Hasyim (68) meninggal dunia, Ahmad Fikri sedang mengemban amanah sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2023.
Baca Juga: Kementerian Haji Arab Saudi Siap Sambut Kedatangan Jemaah Haji Indonesia
Almarhum H. Taufik Hasyim meninggal pada Rabu 24 Mei 2023 pukul 05.00.
"Abah meninggal Rabu pagi. Tentunya saya sangat sedih dan terpukul karena tidak berada di kampung halaman, " ujarnya saat berbicara cang di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, Kamis 25 Mei 2023 dinii hari.
Mendapatkan kabar tersebut, Ahmad Fikri langsung melakukan video call (VC) dengan adik dan ibunya, Hj. Ainu Zamrudah.
Melalui VC tersebut, Ahmad Fikri bisa menyaksikan prosesi pemandian hingga pemakaman almarhum.
"Alhamdulillah masih bisa menyaksikan prosesi pemandian dan pemakaman meskipun saya tidak berada langsung di kampung halaman, " terangnya.
Ditinggalkan orang tercinta, membuat Ahmad Fikri sangat terguncang.
Baca Juga: Berikan Pelayanan Kesehatan Terbaik, Pemerintah Buka 2 KKHI untuk Jemaah Haji
Namun ia mengaku sangat ikhlas dan seraya mengirimkan untai doa untuk almarhum.
"Saya ikhlas dan saya memutuskan untuk tidak pulang dan tetap bertugas melayani jamaah haji Indonesia. Karena kalaupun saya pulang, Abah tetap sudah tiada, " katanya.
Beruntung Ahmad Fikri memiliki rekan kerja di Daerah Kerja (Daker) Bandara yang sangat solid dan memiliki rasa kekeluargaan tinggi.
Baca Juga: Pesan Pelindungan dari KJRI, Jemaah Haji Jangan Bawa Jimat sampai Peluru
Bahkan usai salat subuh, dilaksanakan salat gaib untuk almarhum.
"Sangat bersyukur semuanya support saya. Saya sangat terharu saat dilaksanakan salah gaib untuk mendoakan almarhum," ucapnya.
Ia disarankan untuk beristirahat di hari perdana kedatangan jemaah haji ke Madinah.
Baca Juga: Ikuti Bimtek, 768 Tenaga Pendukung Diminta Fokus Melayani Jemaah Haji
Namun ia menolaknya, dan tetap menjalankan tugasnya di Daker Makkah ubit Layanan Kedatangan dan Keberangkatan Jemaah Haji.
"Karena support rekan-rekan saya menjadi tegar dan bisa menjalankan tugas," tegasnya.
Ahmad Fikri pun berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia.
Baca Juga: Terbang ke Saudi, 489 Petugas Siap Sambut Jemaah Haji Indonesia
Apalagi terdapat 67 ribu jemaah haji Lansia.
"Saya akan melayani jemaah Lansia dengan baik. Saya ingin berkhidmat layaknya berbakti kepada orang tua. Karena selama hidup almarhum, saya belum banyak berbakti," pungkasnya dengan mata berkaca-kaca.***

Share this article
Ahmad Fikri mengaku sedih dan terpukul karena sang ayah meninggal dunia saat bertugas sebagai petugas haji di Arab Saudi.