AYOJAKARTA.COM - Anies Baswedan angkat suara mengomentari fenomena tingkah laku turis norak di Bali yang menjadi bahan pemberitaan dalam beberapa bulan terakhir.
Tingkah laku turis norak tersebut seperti tidak memakai helm saat memakai motor, melawan polisi, melawan warga setempat, hingga melakukan perbuatan tidak senonoh di tempat umum
Menurut Anies Baswedan, sebenarnya gampang banget untuk mengatasi masalah tersebut.
Baca Juga: Anies Baswedan di Mata Najwa: Ungkap Komitmen untuk Perubahan dengan Fokus pada Keadilan
Anies Baswedan menegaskan yang terutama adalah adanya kepastian hukum dan tindakan tegas.
Hal tersebut dia sampaikan di acara Mata Najwa on Stage seperti disiarkan di Youtube Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa 19 september 2023.
"Cara yang mudah, tinggal mengantarkan mereka ke bandara, memasukkan ke pesawat, dan selamat tinggal, silakan kembali ke kampung halaman Anda, selesai," ungkap Anies.
Baca Juga: Segera Ditetapkan, Sosok Kapten Timnas Pemenangan Anies Baswedan-Cak Imin Tokoh Perempuan?
Menurut Anies, menegakkan aturan adalah solusi untuk mencegah turis yang tidak memberikan manfaat bagi Indonesia agar tidak menetap di Bali. Ia juga menyoroti pentingnya sistem informasi yang mencatat kedatangan dan kepulangan turis untuk pengawasan yang lebih baik.
"Penegakan aturan sangat penting. Sistem informasi yang lebih baik harus ada, sehingga kedatangan dan kepulangan turis dapat terkendali," tuturnya.
Anies berpendapat bahwa turis asing seharusnya hanya bersifat sementara. Oleh karena itu, mereka harus pulang setelah izin tinggal sementara mereka habis.
Baca Juga: Inilah Aspek Penting yang Dimiliki Anies Baswedan, Bisa Hadirkan Perubahan bagi Bangsa Indonesia?
"Terlebih lagi, mereka adalah turis. Turis itu artinya sementara, sesuai dengan namanya. Mereka datang ke sini untuk berwisata. Ketika masa tinggal sementaranya berakhir, mereka harus pulang," jelasnya.
Namun, Indonesia belum tentu memiliki sistem pengawasan yang memadai untuk mengontrol turis agar tidak tinggal lebih lama dari yang diizinkan.
"Seringkali kita kurang mengawasi, menindak, dan bahkan belum memiliki sistem yang baik. Kita perlu melaksanakan aturan, memperbaiki sistem, dan menindak tegas pelanggaran," ujar Anies.
Elektabilitas Anies Masih di Urutan Buncit
Hasil survei terbaru dari Voxpopuli Research Center memperlihatkan bahwa elektabilitas Anies Baswedan tetap stabil di urutan buncit atau ketiga.
Prabowo Subianto tetap mempertahankan posisi tertinggi dalam konteks calon presiden (capres) dengan mencapai 26,2 persen elektabilitas. Diikuti oleh Ganjar Pranowo yang menempati peringkat kedua dengan tingkat elektabilitas saat ini sekitar 24,3 persen.
Sementara Anies Baswedan tetap berada di peringkat ketiga dengan peningkatan elektabilitas sedikit dibanding survei sebelumnya pada bulan Juni 2023, yakni sekitar 16,1 persen.
Baca Juga: Anies Baswedan Blak-Blakan Beber tentang Narasi Perubahan di Pilpres 2024, Apa Itu?
"Prestasi teratas masih dipegang oleh Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024, diikuti oleh Ganjar yang mengalami kenaikan, dan Anies yang naik tipis pada peringkat ketiga," ujar Peneliti Senior Voxpopuli Research Center, Prijo Wasono di Jakarta pada Jumat, 15 September 2023.
Menurut Prijo, persaingan sengit saat ini terfokus pada Prabowo dan Ganjar. Pada awal tahun, Ganjar memimpin namun kemudian turun hingga dilampaui oleh Prabowo. Sejak saat itu, Prabowo terus memimpin dengan tren kenaikan elektabilitas yang stabil.
"Kekuatan Prabowo semakin meningkat dengan bergabungnya partai-partai Senayan dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), termasuk Partai Golkar dan PAN, yang bergabung dengan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR)," ujar Prijo.
Meskipun PKB keluar dari koalisi, koalisi yang mendukung Prabowo masih memiliki kekuatan terbesar jika diukur dari perolehan kursi di parlemen. Koalisi Indonesia Maju (KIM) ini juga didukung oleh Partai Gerindra, yang merupakan partai politik terbesar kedua.
Di sisi lain, Kubu Ganjar hanya didukung oleh dua partai parlemen, yaitu PDIP dan PPP, sementara sisanya berasal dari partai non-parlemen. Peristiwa menarik terjadi di kubu Anies, di mana Demokrat memutuskan untuk keluar dari Koalisi Perubahan.
"Masuknya PKB ke koalisi yang mendukung Anies dan penunjukkan Muhaimin Iskandar sebagai cawapres Anies juga memunculkan gesekan dengan PKS," ujarnya.
Prijo juga menyatakan bahwa deklarasi Anies-Cak Imin mengakhiri ketidakpastian di antara partai-partai anggota Koalisi Perubahan mengenai figur cawapres.
"Kepastian mengenai cawapres pendamping Anies telah meningkatkan elektabilitas, menghentikan tren penurunan sepanjang tahun 2023," ujar Prijo.
Namun, munculnya nama Cak Imin tidak serta-merta meningkatkan elektabilitas Anies.

Share this article
Anies Baswedan berbicara tentang tindakan tegas yang diperlukan untuk mengatasi perilaku turis norak di Bali.