AYOJAKARTA.COM - Menghadapi potensi gempa megathrust khususnya Cesar Mentawai-Siberut, masyarakat di Bengkulu mulai melakukan upaya mitigasi.
Potensi gempa megathrust dengan Magnitudo hingga mencapai 8,9 diprediksi akan berdampak pada seluruh wilayah Pulau Sumatera, termasuk Bengkulu.
Bengkulu merupakan salah satu wilayah paling berpotensi terkena dampak gempa megathrust, namun minim persediaan infrastruktur sehingga lebih rentan.
Namun demikian, BMKG dengan sejumlah aparat terkait terus mengupayakan ketersediaan sarana dan fasilitas untuk antisipasi.
Menurut Nabila Ardiana selaku Penanggung Jawab BMKG Kepahiang, jumlah sirine tanda bahaya Tsunami di Bengkulu masih relatif kurang.
“Yang dari BMKG, di kota Bengkulu baru terpasang ada tiga sirine, sedangkan kabupaten-kabupaten lain masih belum ada,” ungkapnya dikutip dari kanal YouTube Metro Tv, Selasa (27/8/2024).
Gelombang Tsunami merupakan salah fenomena susulan yang muncul akibat adanya gempa megathrust, sehingga membawa kekhawatiran tersendiri di masyarakat.
Karena itu masyarakat menilai pentingnya penyuluhan untuk melakukan mitigasi bencana, terlebih Indonesia merupakan salah satu Cincin Api atau Ring of Fire.
Baca Juga: Gempa Megathrust di Indonesia Tinggal Tunggu Waktu, Ini 2 Wilayah yang Patut Diwaspadai
Sehubungan dengan langkah dan upaya mitigasi, masyarakat menilai pentingnya menjadikan Mitigasi Bencana sebagai Kurikulum Pendidikan di Indonesia.
Dengan adanya kurikulum tersebut, maka generasi muda Indonesia akan memahami cara penanganan dan penanggulangan situasi membahayakan.
Menurut Suhaidi Ahadi selaku Kepala BMKG Sumatera Barat, potensi gempa megathrust masih merupakan ancaman bagi Pulau Sumatera.
“Terkait potensi gempa megathrust Mentawai, ini bukan prediksi, yang perlu kita bangun adalah kesadaran evakuasi yang baik dan benar,” ungkap Suhaidi.
Selain di Bengkulu, sosialisasi dan penyuluhan mitigasi bencana gempa megathrust juga dilakukan oleh BNPB di Kepulauan Mentawai.
Langkah tersebut dinilai penting, mengingat Mentawai merupakan salah satu wilayah Indonesia yang berpotensi ikut terdampak gempa megathrust.
Sosialisasi mitigasi bencana gempa megathrust selain dihadiri oleh Bupati dan jajaran terkait, juga dihadiri oleh Kepala Desa dan Tokoh Masyarakat.
Dalam acara tersebut, Agus Riyanto selaku Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB mengingatkan peserta dan masyarakat terkait potensi bahaya gempa megathrust.
Karena itu, Agus menilai pentingnya para pemangku wilayah dan pemerintah di masing-masing daerah untuk terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan.
Selain melalui sekolah-sekolah, mitigasi bencana juga dapat dilakukan dengan menggunakan kanal-kanal informasi publik.
Disamping terus mengupayakan infrastruktur kebencanaan, pemerintah dan masyarakat juga perlu menyediakan jalur evakuasi dan shelter.
Menurut Fernando Simanjuntak selaku PJ Bupati Kepulauan Mentawai, di wilayahnya terdapat sebanyak 36 desa rawan bencana.
Meski demikian, Fernando memastikan di masing-masing wilayah tersebut sudah tersedia sejumlah tim khusus untuk penanganan bencana. ***

Share this article
Masyarakat menilai pentingnya menjadikan Mitigasi Bencana sebagai Kurikulum Pendidikan di Indonesia.