AYOJAKARTA.COM – Munculnya sejumlah keterangan dari para saksi baru terkait penyebab kematian sejoli Vina-Eky, adalah bentuk hoax atau kabar tidak benar.
Mengacu pada alat bukti yang tersedia serta keterangan dari para saksi mata, penyebab kematian Vina-Eky pada 2016 adalah pembunuhan berencana.
Karena itu anggapan sebagian besar masyarakat terkait penyebab utama kematian Vina-Eky akibat kecelakaan tunggal, dapat dipastikan hanya kekeliruan.
Berdasarkan hasil penelusuran dan pendalaman, peristiwa berdarah pada 27 Agustus 2016, dilakukan oleh para pelaku secara berkelompok.
Dari sejumlah tersangka yang saat ini sudah menjadi terpidana, Rivaldi alias Ucil merupakan sosok paling keji karena paling banyak melukai korban.
Dengan menggunakan Mandau yang merupakan senjata khas suku Dayak Kalimantan, Ucil melakukan berbagai tindak kekerasan hingga berujung kematian korban.
Pandangan terkait penyebab dan sosok paling antagonis dalam kasus kematian Vina-Eky tersebut disampaikan Elza Syarief selaku Penasehat Hukum Iptu Rudiana.
“Rivaldi itu setelah kejadian tanggal 27, dia juga waktu tanggal 29 melakukan penganiayaan berat kepada seorang perempuan dengan Mandaunya,” jelas Elza, dikutip dari kanal YouTube Nusantara TV, Selasa, 24 September 2024.
Lebih lanjut Elza menegaskan Mandau yang digunakan Ucil untuk melukai Vina-Eky, juga dipergunakan untuk melukai perempuan.
Akibat penggunaan senjata tajam jenis Mandau tersebut, penyidik berhasil mendapatkan alat bukti berupa gambar foto dari para korban.
Sehingga kabar-kabar yang baru muncul usai kasus Vina-Eky kembali disorot, tidak lain hanya bagian dari drama-drama picisan.
“Jadi keterangan dari mereka, yang melakukan penyayatan dan segala rupa adalah Si Ucil,” jelas Elza dalam sebuah diskusi.
Terkait dengan penjelasan yang disampaikan Elza, Pakar Psikolog Forensik Reza Indragiri memberikan tanggapan.
Menurut Reza, salah satu hal yang menjadikan kasus Vina-Eky menjadi berbelit adalah karena banyaknya persepsi.
Penggunaan istilah Sayatan di tubuh korban akibat terkena Mandau, menurut Reza tidak sepenuhnya dapat dibenarkan.
Meski terdapat bukti adanya Trauma Tajam, hal tersebut tidak secara otomatis atau dipastikan karena diakibatkan oleh Mandau.
Selain Reza Indragiri, sanggahan terkait penggunaan Mandau dalam kasus Vina-Eky juga disampaikan oleh Ahli Hukum Pidana Azmi Syahputra.
Menurut Azmi, pengungkapan penyebab utama perkara kematian Vina-Eky merupakan contoh buruk dari proses penanganan hukum.
Berawal dari kegagalan pada tingkat pertama penyidikan, kasus Vina-Eky hari ini lahir untuk mengingatkan tentang pentingnya persamaan perspektif.
“Kalau Bu Elza bilang Mandau, padahal kalo kita lihat pada halaman 6 BAP itu adalah Samurai, makanya mana yang benar ini?” pungkas Azmi. ***

Share this article
Munculnya sejumlah keterangan dari para saksi baru terkait penyebab kematian sejoli Vina-Eky, adalah bentuk hoax.