AYOJAKARTA.COM - Lagi-lagi perang Israel dengan Palestina di Gaza kembali memanas setelah gencatan senjata yang sebelumnya disepakati dilanggar.
Serangan udara besar-besaran Israel tepat pada Selasa 18 Maret 2025 menewaskan lebih dari 400 orang Palestina.
Sehari kemudian serangan tambahan merenggut 20 nyawa lainnya dan menyebabkan suasana mencekam.
Baca Juga: Terungkap! Sri Mulyani Sebut 2 Faktor Ini Jadi Alasan IHSG Anjlok 6 Persen, Apa Saja?
Keadaan yang sempat tenang kini berubah menjadi kepanikan dan penderitaan baru bagi warga Gaza.
Al Mawasi merupakan sebuah lokasi yang sebelumnya ditetapkan sebagai zona kemanusiaan.
Ribuan warga yang sempat kembali ke rumah mereka kini terpaksa harus mengungsi kembali.
“Yang paling menyakitkan bukan hanya kelaparan atau ketidakpastian tetapi hilangnya harapan yang pernah tumbuh selama gencatan senjata,” ujar Osama seorang pekerja bantuan berusia 40 tahun dikutip ayojakarta.com dari theguardian.com.
Kondisi semakin memburuk setelah tentara Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi.
Ribuan selebaran dijatuhkan di Beit Hanoun, Rafah, Khan Younis dan Shuja’iya.
Tentara Israel menginstruksikan warga untuk segera meninggalkan tempat tinggal mereka karena dianggap berada dalam zona berbahaya.
Lebih dari 160.000 warga Palestina kembali harus meninggalkan rumahnya dan banyak di antara mereka sudah mengungsi hingga berkali-kali.
Khatam al Kafarna seorang perawat berusia 28 tahun dari Beit Hanoun pun menggambarkan situasi di kamp al Shati tempat ia kini tinggal bersama keluarganya.
“Tidak ada bantuan tidak ada makanan dan tidak ada air serta tidak ada tempat istirahat, Kami semua berbagi satu tenda tanpa privasi. Kami hanya menunggu maut setiap saat,” pungkasnya.
Pengepungan ketat tentara Israel kembali diberlakukan sejak 17 hari lalu, menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak sangat drastis.
Satu kilogram kentang kini mencapai $5 hingga empat kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya.
Distribusi bantuan terpaksa dikurangi untuk menghemat persediaan yang kini semakin menipis.
Fred Oola petugas medis senior di rumah sakit lapangan Palang Merah di Rafah pun mengatakan jumlah pasien terus meningkat.
“Sirine ambulans tak pernah berhenti dan Wajah-wajah pasien yang kami bantu menunjukkan rasa takut yang mendalam,” ujarnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato televisinya beralasan serangan terbaru diperintahkan karena Hamas menolak memperpanjang gencatan senjata.
Di sisi lain Hamas menegaskan bahwa Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
Sejak awal konflik ini pada Oktober 2023 lebih dari 49.000 warga Gaza dilaporkan tewas, mayoritas adalah warga sipil.***

Share this article
Lagi-lagi perang Israel dengan Palestina di Gaza kembali memanas setelah gencatan senjata yang sebelumnya disepakati dilanggar.