AYOJAKARTA.COM - Sejak gempa besar yang melanda Kabupaten Cianjur 21 November 2022 masyarakat semakin merasa khawatir.
Hal ini bukan tanpa sebab, sejak saat itu gempa bumi susulan terus menerus terjadi pada wilayah Jawa Barat.
Daryono yang merupakan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menyampaikan melalui akun Twitternya @DaryonoBMKG mengenai gempa susulan yang terjadi setelah gempa Cianjur lalu.
"Update Gempa Susulan Cianjur s/d Senin 5 Desember 2022 pkl 06.00 WIB terjadi 387 kali gempa. Kekuatan fluktuatif melemah secara umum dan frekuensi kejadiannya makin jarang," tulis Daryono.
Namun dengan melemahnya intensitas kegempaan yang terjadi di Cianjur, muncullah beberapa gempa lainnya yang terjadi di Garut dan Tasikmalaya.
Meskipun gempa bumi Garut disebabkan oleh gempa intraslab, namun aktivitas kegempaan ini semakin menambah ketakutan pada masyarakat.
Terlebih lagi wilayah Tasikmalaya sempat diguncang gempa pada pekan kemarin.
Baca Juga: Kasus Anggota Paspampres Perkosa Prajurit Kostrad, Anggota DPR Minta Untuk Diusut Tuntas!
Daryono menyampaikan terkait aktivitas gempa yang terjadi pada Tasikmalaya, bahwa sesarlah yang menyebabkan gempa tersebut terjadi.
"Rentetan 3 gempa di Tasikmalaya hari ini menarik dicermati, tjd Pkl 04:34:49 WIB (M2,9) Pkl 04:39:54 WIB (M2,8) & Pkl 09:57:36 WIB (M3,0). Gempa dangkal ini dipicu sesar aktif. Lihatlah peta sumber gempa ini, fokus Tasikmalaya sptny mmg ada struktur sesar arah barat daya-tenggara," cuit Daryono.
Masyarakat Pun diingatkan untuk lebih waspada dengan beberapa sesar aktif yang ada di daerah Jawa Barat terutama DKI Jakarta.
Pasalnya sebuah penelitian ilmiah yang berkaitan dengan gempa besar yang akan terjadi di Jakarta - Bogor ditulis oleh guru besar Fakultas Pertambangan dan Perminyakan ITB Sri Widiyantoro dan Team dan diunggah melalui YouTube Channel Harian Kompas (25/11/2022).
Baca Juga: Gempa Bumi Garut Berkekuatan 6,4 M, Ternyata Ini Pemicunya!
Berdasarkan penelitian tersebut diperkirakan akan ada gempa besar mengguncang wilayah megapolitan Jabodetabek yang dihuni lebih dari 29 juta jiwa atau 11 persen penduduk Indonesia yang disebabkan oleh sesar baribis.
Dikutip Ayojakarta.com pada akun Youtube Harian Kompas Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari yang merupakan salah satu anggota tim penelitian gempa Megathrust menjelaskan tentang prediksi terjadinya gempa besar tersebut.
Ia menyebutkan bahwa gempa bumi megathrust dihitung dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) yang mengatakan bahwa gempa bumi di Selatan Jawa diprediksi setiap 400 tahun.
Meski demikian peneliti tidak dapat memprediksi kapan gempa megathrust kembali terjadi.
Namun sejarah menyebutkan bahwa gempa bumi megathurst yang terakhir mengguncang selatan Jawa terjadi pada tahun 1818.
"Dia bisa sampai itu dengan pereda akumulasi energi 400 tahun, sedangkan kita masih punya catatan sejarah terakhir di 1818, kita belum punya nih yang crossing sampai 400 tahun, jadi kita nggak tau nih ini terakhir, ini terjadinya kapan, sehingga kita masih belum bisa menentukan ini kira-kira berapa puluh tahun lagi dia akan mengulang dengan kekuatan 8,8 hingga 9," papar Abdul Muhari.
Berdasarkan intepretasi model gempa dan tsunami area yang paling terdampak jika terjadi gempa adalah Pandeglang, Lebak, Sukabumi, Cianjur, Kulonprogo, Gunung Kidul, Bantul serta Pacitan.***

Share this article
Gempa bumi di Cianjur dan dipicu banyak gempa yang terjadi di berbagai daerah membuat khawatir masyarakat. Sesar Baribis terus bergerak