AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi yang mengguncang Pulau Bali tepatnya di wilayah Karangasem lalu menimbulkan kerusakan di beberapa tempat.
Dikutip dari akun Twitter @DaryonoBMKG sebanyak empat rumah rusak di Dusun Baturinggit Kelod Desa Baturinggit, satu rumah rusak di Dusun Pagubugan, Desa Manggis dan satu rumah sakit rusak (Balimed Karangasem).
Daryono sebagai Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG pun menyebutkan bahwa gempa bumi yang terjadi di Karangasem ini merupakan bencana yang diakibatkan aktivitas Sesar Naik Flores.
Baca Juga: Sesar Baribis Aktif Didasarkan dari Alat Deteksi Gempa, Ahli: Takutnya Sedang Mengakumulasi Energi
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa Karangasem M5,1 merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," tulis Daryono.
Lebih lanjut Daryono menjelaskan bahwa gempa bumi Karangasem ini penyebabnya sama dengan gempa bumi yang ada di Lombok pada tahun 2018.
"Dari sisi mekanisme sumbernya, gempa Karangasem saat ini masih "satu keluarga" dengan gempa Lombok 2018," cuit Daryono.
Baca Juga: Sesar Baribis Aktif, Waspadai Potensi Gempa Besar dan Simak Penjelasan Ahli di Sini!
Tim Ayojakarta.com kemudian menemukan artikel yang diterbitkan oleh BMKG yang berisi ulasan mengenai gempa yang terjadi pada Lombok tahun 2018.
Sesar Naik Flores atau yang populer disebut back arc thrust merupakan sesar yang terbentuk akibat tunjaman balik lempeng Eurasia terhadap lempeng samudera Indo-Australia.
Sesar ini sudah terbukti nyata beberapa kali menjadi penyebab gempa mematikan karena ciri gempanya yang dangkal dengan magnitude besar.
Berdasarkan data, sebagian besar gempa terasa hingga gempa merusak yang mengguncang Bali, Nusa Tenggara Barat, dan NTT disebabkan oleh aktivitas back arc thrust ini, dan hanya sebagian kecil saja disebabkan oleh aktivitas penyusupan lempeng.
Dikutip Ayojakarta.com dari akun YouTube Metrotvnews (15/12/2022), beberapa gempa besar pun telah terjadi di Indonesia yang diakibatkan oleh sesar naik Flores.
-
Gempa bumi Buleleng Bali 7,0 SR yang terjadi pada 22 November 1815 menyebabkan 1.200 orang meninggal dunia
-
Gempa bumi Bima NTB 7,5 SR yang terjadi pada 28 November 1836
-
Gempa bumi Bali 7,0 SR terjadi pada 13 Mei 1857
-
Gempa bumi Seririt Bali 6,5 SR yang terjadi pada 14 Juli 1976 menyebabkan 600 orang meninggal dunia
-
Gempa bumi Flores 7,8 SR 12 Desember 1992 menyebabkan 2.500 orang meninggal dunia
-
Gempa bumi Lombok 7,0 SR 5 Agustus 2018 menyebabkan 515 orang meninggal dunia.
Namun dalam kesempatannya, Daryono menjelaskan bahwa penelitian mengenai sesar naik ini belum maksimal karena letak sesar yang berada dilaut.
"Kita harus akui bahwa research kita terhadap sistem sesar atau patahan-patahan itu masih banyak yang belum teridentifikasi dengan baik, apa lagi sesar yang berada didasar laut itu menjadi perhatian kita, apa lagi itu membutuhkan biaya yang besar," ucap Daryono.***

Share this article
Ternyata Sesar Naik Flores, penyebab gempa Karangasem Bali beberapa kali terbukti jadi sumber gempa mematikan, simak ulasan berikut.