JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah pusat sudah mendatangan dua jenis obat untuk diberikan secara massal kepada pasien COVID-19.
Dua obat itu adalah avigan dan klorokuin fosfat. Dalam telekonferensi pers di Istana Negara, kemarin, Presiden Joko Widodo menyatakan dua obat itu telah digunakan oleh sejumlah negara untuk mengobati COVID-19.
Jokowi menyebutkan, pemerintah sudah mendatangkan 5.000 avigan dan 2 juta lagi obat itu masih dalam proses. Sementara untuk klorokuin fosfat, pemerintah sudah menyiapkan sebanyak 3 juta buah. Jokowi tidak menyebutkan secara rinci dari mana kedua obat tersebut dibeli.
"Obat tersebut akan sampai ke pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi," terangnya.
Mari mengenal Avigain (Favipiravir) dan Klorokuin fosfat (chloroquine phosphate) lebih jauh.
Avigan (Favipiravir)
Ini adalah obat antivirus dari Jepang yang dikembangkan pada 2014 oleh perusahaan Jepang, yaitu Fujifilm Toyama Chemical dan diproduksi oleh Zheijang Hisun Pharmaceutical.
Avigan dikembangkan untuk mengobati virus influenza, tapi sejak Februari diakui sebagai pengobatan eksperimental untuk pasien COVID-19 di Jepang.
Di China, uji klinis telah dilakukan kepada 200 pasien rumah sakit di Wuhan dan Shenzhen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menerima obat ditetapkan negatif dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, gejala pneumonia-nya juga sangat berkurang.
Pejabat Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, Zhang Xinmin, mengatakan bahwa pasien yang mengonsumsi favipiravir dinyatakan sembuh rata-rata setelah empat hari. Menurutnya lagi, tidak ada efek samping signifikan yang dialami pasien.
Kondisi paru-paru yang ditunjukkan oleh sinar-X memperlihatkan perbedaan besar antara pasien COVID-19 yang mengonsumsi Avigan dengan pasien yang tidak.
Pada pasien yang mengonsumsi obat Avigan tampak kondisi paru meningkat 91 persen. Sedangkan pada yang tidak mengonsumsi obat Avigan, kualitas paru meningkat hanya 62 persen.
Dalam uji coba di Wuhan, Avigan tampak memperpendek durasi demam pasien dari rata-rata 4,2 hari menjadi 2,5 hari.
Di Jepang, Avigan memang diresepkan bagi pasien COVID-19 yang memiliki gejala ringan hingga sedang. Ahli menemukan bahwa obat ini kurang efektif jika diberikan pada pasien yang memiliki gejala berat.
Klorokuin fosfat (chloroquine phosphate)
Obat ini merupakan senyawa sintetis (kimiawi) yang memiliki struktur sama dengan quinine sulfate.
Quinine sulfate sendiri berasal dari ekstrak kulit batang pohon kina, yang selama ini juga menjadi obat bagi pasien malaria.
Para peneliti global setidaknya telah melakukan 10 uji klinis dalam penelitian yang dilakukan di tabung reaksi.
Klorokuin biasanya digunakan untuk mencegah atau mengobati malaria yang disebabkan oleh gigitan nyamuk.
Parasit malaria dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk, kemudian hidup dalam jaringan tubuh seperti sel darah merah atau hati.
Obat ini digunakan untuk membunuh parasit malaria yang hidup di dalam sel darah merah.
Webmd menyebutkan, selain untuk mengobati dan mencegah malaria, Chloroquine juga digunakan untuk mengobati amebiasis (infeksi yang disebabkan oleh amuba).
Namun menurut situs Drugs.com klorokuin bila dikonsumsi jangka panjang atau pada dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata.
Jika memiliki masalah pada pemfokusan, melihat garis-garis cahaya atau kilatan di penglihatan, atau terjadi pembengkakan atau perubahan warna pada mata, berhentilah meminum klorokuin dan hubungi dokter.
Pasien yang mengonsumsi klorokuin harus berhati-hatil jika mengemudi atau melakukan apapun yang mengharuskannya untuk waspada dan dapat melihat dengan jelas.

Share this article
Kondisi paru-paru yang ditunjukkan oleh sinar-X memperlihatkan perbedaan besar antara pasien COVID-19 yang mengonsumsi Avigan dengan pasien yang tidak.