AYOJAKARTA.COM – Kota Yogyakarta menyimpan kekayaan wisata sejarah lewat keberadaan Makam Raja Mataram di Kotagede.
Makam Raja Mataram merupakan bagian dari warisan Kerajaan Mataram Islam abad ke-16 hingga ke-17. Lokasinya berada tepat di belakang Masjid Gede Mataram, yang juga memiliki nilai sejarah tinggi.
Kompleks ini bukan hanya menjadi situs ziarah, tetapi juga saksi bisu arsitektur dan tradisi keagamaan yang masih terjaga hingga kini.
Sejarah Singkat Kerajaan Mataram
-
Abad ke-8 hingga 10: Mataram Kuno di Jawa Tengah berkembang sebagai pusat agama Hindu awal, lalu berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10.
-
Abad ke-16: Panembahan Senopati (Danang Sutawijaya) mendirikan Kesultanan Mataram Islam di Kotagede, menggantikan kekuasaan Pajang.
Di masa pemerintahan keturunannya, wilayah kekuasaan Mataram berkembang pesat. Sultan Agung berhasil menguasai hampir seluruh Pulau Jawa. Pada tahun 1613, ia memindahkan pusat pemerintahan ke Karta (dekat Pleret), sehingga Kotagede tidak lagi menjadi ibu kota.
Baca Juga: KJP Plus Bisa Dipakai Buat Masuk Tempat Wisata Edukatif Gratis di Jakarta mulai April 2025
Kompleks Makam dan Masjid Gede
Makam Raja-Raja Mataram
-
Di dalam kompleks ini terdapat makam Panembahan Senopati, Panembahan Hanyakrawati (Sri Jolang), serta Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir).
-
Letaknya berada di sebelah barat Masjid Gede Kotagede, dipisahkan oleh tembok bata merah khas Jawa.
-
Akses menuju makam melalui gapura paduraksa dengan ornamen kala bercuping ganda, menunjukkan perpaduan unsur Hindu dan Islam.
Kompleks ini terbagi menjadi beberapa area berundak. Di dalamnya terdapat bangsal istirahat, gapura dengan latar tembok kelir, serta pendopo kecil bernama Bangsal Dudo (dibangun tahun 1566/1644 M) yang digunakan para abdi dalem.
Di halaman utama, pengunjung bisa menziarahi makam tokoh-tokoh kerajaan dan keluarga dekatnya. Setiap makam dilengkapi dengan prasasti serta panel informasi beraksara Jawa dan Latin.
Masjid Gede Mataram
-
Masjid ini dibangun dalam dua fase: fase pertama berupa langgar kecil oleh Sultan Agung, dan fase kedua oleh Pakubuwono X.
-
Arsitekturnya khas Jawa, dengan atap limasan serta tiang kayu jati (warisan Sultan Agung) yang dipadukan dengan tiang besi (tambahannya Pakubuwono X).
-
Gapura masjid bergaya paduraksa menjadi pintu masuk utama. Di teras depan terdapat kolam ikan kecil, dan serambinya cukup luas untuk berbagai aktivitas.
Di masa lalu, masjid ini tidak hanya digunakan untuk salat, tetapi juga sebagai tempat pengajian, musyawarah masyarakat, hingga majelis peradilan. Hingga kini, masyarakat masih rutin menggunakan masjid ini untuk acara keagamaan seperti pengajian dan pernikahan.
Baca Juga: Beda Rp2 Juta! Mending Beli iPhone 13 atau Samsung A56? Cek Perbandingan Spek dan Fitur
Tata Tertib Ziarah
Untuk menjaga kesakralan tempat, pengunjung yang ingin berziarah diwajibkan mengenakan busana adat Jawa:
-
Wanita mengenakan kain jarik dan kemben, atau baju peranakan.
-
Pria memakai kain batik dan blangkon.
Ziarah hanya dibuka pada hari Senin pagi dan Jumat sore, sesuai waktu yang telah ditetapkan pengelola.
Makna dan Warisan
Keberadaan Masjid Gede dan kompleks makam di Kotagede menggambarkan harmoni antara pemerintahan kerajaan, kehidupan beragama, dan adat istiadat Jawa. Situs ini menjadi pengingat bagi generasi masa kini akan pentingnya melestarikan sejarah dan nilai-nilai luhur para leluhur.
Lebih dari sekadar tempat wisata, lokasi ini memperkaya khazanah budaya dan spiritualitas Yogyakarta.***

Share this article
Wisata sejarah di Kotagede hadirkan harmoni budaya, spiritualitas, dan warisan Mataram Islam yang masih hidup hingga kini.