Pakar Konservasi Dukung Konsep Edukasi Wisata Malam di Kebun Raya Bogor

Ilustrasi: Rencana Pembukaan Wisata Malam Kebun Raya Bogor Ditentang Para Pendahulu Kebun Raya Bogor. (Dok Instagram Glow Kebun Raya)
KOTA BOGOR, AYOJAKARTA - Salah satu pakar konservasi, Gregori Garnadi Hambali angkat suara soal konsep wisata edukasi malam di Kebun Raya Bogor bertajuk 'Glow' yang belakangan ini tengah hangat diperbincangkan dan dinanti-nanti masyarakat.
Tidak hanya dari segi wisata edukasi saja, adanya Glow juga dapat memudahkan peneliti kepada penelitian dan pengamatan yang lebih mendalam terhadap flora dan fauna di Kebun Raya Bogor yang aktif pada malam hari.
Pria yang akrab disapa Greg Hambali itu menilai, di Kebun Raya Bogor sendiri terdapat berbagai tanaman yang justru aktif bereproduksi pada sore hingga malam hari.
Sehingga, kata dia, berbagai pihak yang sempat melakukan kritik dan penolakan terhadap Glow, harus datang terlebih dahulu untuk melihat bagaimana konsep Glow secara langsung.
Sebab, hal itu juga berkaitan dengan upaya konservasi yang juga diterapkan oleh Glow. "Jadi selain edukasi wisata bagi masyarakat, peneliti juga bisa mengamati flora dan fauna yang justru lebih aktif pada malam hari. Karena tidak semuanya aktif pada siang hari," katanya, Minggu 10 Oktober 2021.
Greg yang sempat bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menyebutkan, banyak yang menunjukkan kontra terhadap Glow lantaran takut mengganggu aktivitas flora dan fauna di KRB pada malam hari. Hal tersebut harus dibuktikan secara langsung.
Dia menambahkan, dengan adanya GLOW, anak-anak yang datang dapat melihat dan mengamati tanaman-tanaman yang aktif pada malam hari. Sekaligus melihat tayangan dari pedar cahaya seperti laser, dengan latar belakang pepohonan.
Ditambah lagi, tayangan tersebut menunjukkan tayangan yang penuh makna sejarah. Mulai dari sejarah Kebun Raya, kedatangan penjajah, hingga kemerdekaan Indonesia. Menurut dia, konsep ini perlu diapresiasi.
Sehingga jika ada yang hendak memberikan protes, pihak yang bersangkutan lebih baik datang untuk melihat langsung agar mengerti makna yang disampaikan dari Glow sendiri.
“Nah ini saya kira hal-hal yang harus kita perhatikan. Jadi jangan alergi terhadap hal-hal yang baru. Karena ini semua demi mengedukasi kepada masyarakat,” tutupnya.
General Manager Corporate Communication & Security PT Mitra Natura Raya Zaenal Arifin menjelaskan, bahwa program wisata ini bertujuan memperkenalkan beragam tumbuhan kepada generasi milenial.
“Bahasa universal untuk milenial selain musik adalah sesuatu yang Instagrammable, kami memilih Glow dengan konsep lighting show yang dipadukan dengan konten edukasi tentang Sejarah, Konservasi dan Penelitian yang ada di dalam Kebun Raya Bogor,” ujarnya
Selain melihat lighting show, pengunjung juga dapat melihat papan informasi yang berisi informasi tentang tumbuhan di setiap zona GLOW.
Dalam papan informasi tersebut pengujung akan mendapatkan informasi beragam tumbuhan yang ada di setiap zona Glow, salah satu contoh yaitu spesies tumbuhan iklim kering yakni Cactus Cereusrepandus maupun Jatropha Padagrica di Taman Meksiko.
"Sementara itu, di Taman Akuatik ada berbagai tanaman termasuk Cyperus Papyrus, Sonneratia Caseolaris beserta Victoria Amazonica," tutupnya. (Yogi Faisal)
Foto: Salah satu pakar konservasi Gregori Garnadi Hambali (Yogi Faisal)
Ikuti AyoJakarta.com di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih
cepat
Share this article
Tidak hanya dari segi wisata edukasi saja, adanya Glow juga dapat memudahkan peneliti kepada penelitian dan pengamatan yang lebih mendalam.