DEPOK, AYOJAKARTA.COM – Berdasarkan perhitungan quick count Voxpol Center Research and Consulting, paslon Wakil dan Wali Kota Depok nomor urut 2, Idris-Imam sementara masih unggul di angka 57,30% suara hingga pukul 17.00 WIB.
Sementara itu, paslon Wakil dan Wali Kota Depok nomor urut 1, Pradi-Afifah memperoleh 42,96% suara, hal ini nampak tertinggal di bawah dibandingkan pencapaian suara sementara Idris-Imam. Padahal, pada menit awal perhitungan quick count, Pradi-Afifah sempat mengungguli Idris-Imam di angka 55.05%.
Kemudian, perolehan sampel suara Pilkada 2020 Kota Depok untuk pencoblosan Idris-Imam dan Pradi-Afifah baru mencapai 50,71%. Selain itu, hasil quick count bukan hasil resmi. Perhitungan resmi akan disampaikan oleh KPU Kota Depok.
Diketahui, sebelum melaksanakan hari pencoblosan ini, kedua kandidat melakukan rangkaian debat publik yang terdiri dari tiga edisi, dan berakhir pada Jumat 4 Desember 2020 kemarin. Dalam ketiga debat itu diwarnai saling serang secara frontal antara Idris-Imam maupun Pradi-Afifah.
Terlebih, kedua kandidat masing-masing memiliki latar belakang sebagai petahana, yakni Idris sebagai Wali Kota dan Pradi sebagai Wakil Wali Kota. Keduanya menjabat sejak 2016 lalu. Berikut tiga momen seru saling serang dua kandidat dalam debat terakhir kemarin:
1. Pradi sindir pemerintahan Kota Depok banyak diisi orang dekat Idris
“Ini saya pikir kurang tepat, buat ke depan kita harus bisa menyiapkan dan memberikan kesempatan berbagai stakeholder yang ada sesuai dengan kompetensinya sesuai dengan kemampuannya,” ucapnya dalam siaran debat, Jumat (4/12/2020) .
Ungkapan itu ia lontarkan ketika perdebatan berlangsung seputar isu pelestarian budaya Depok. Ketika itu, Pradi menyalahkan Idris karena enggan menyerahkan kursi ketua dewan kebudayaan kepada fungsionaris partai.
Idris dalam jawabannya menegaskan, keengganan itu disebabkan karena ia ingin jabatan itu diisi oleh orang yang profesional dan lebih pluralis.
“Perlu ditegaskan tidak ada dewan dan belum ada dewan kebudayaan di Kota Depok, yang ada adalah dewan kesenian Kota Depok." jawab Idris.
2. Imam sebut Afifah tidak paham KUA-PPAS
Saat itu, Imam menyinggung tentang realisasi janji program kenaikan gaji tiga kali lipat untuk guru swasta melalui mekanisme KUA-PPAS. Namun, Imam menilai Afifah di luar konteks saat menjawab pertanyaan tersebut. Ia menyinggung, program yang dijanjikan Afifah dikhawatirkan bakal ngawur.
“Kalau tidak tahu Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS), kebijakan umum anggaran, terima kasih,” ucap Imam dalam siaran debat putaran ketiga Pilkada 2020 Kota Depok, Jumat (4/12/2020).
Dalam debat terakhir bertajuk Kerukunan Sosial, Demografi, dan Lingkungan Hidup, Afifah memang sama sekali tidak menyinggung soal rencana penambahan honor guru swasta tersebut melalui mekanisme KUA-PPAS. Ia mengaku, hal tersebut pastinya akan dipelajari.
“Yang jelas satu, guru-guru di Depok masih mengeluh bahwa insentifnya sangat rendah. Masalah-masalah seperti itu akan learning by doing," kata Afifah.
3. Idris semprot Pradi karena jawaban tak nyambung
Awalnya, Idris mencecar Pradi soal cara menekan laju pertumbuhan dan kepadatan penduduk di Depok yang tinggi. Pradi justru menjawab dengan berbagai klaim mengenai rencana yang bakal dilakukan di sektor pembangunan, utamanya infrastruktur dan integrasi transportasi.
“Kalau tak salah yang ditanyakan adalah soal kependudukan dan aglomerasi. Bukan tata ruang. Cermati pertanyaan,” ujar Idris.

Share this article
Berdasarkan perhitungan quick count Voxpol Center Research and Consulting, paslon Wakil dan Wali Kota Depok nomor urut 2, Idris-Imam sementara masih unggul di angka 57,30% suara hingga pukul 17.00 WIB.