AYOJAKARTA.COM - Pendapatan warga Singapura kembali mencuri perhatian publik internasional.
Berdasarkan laporan Key Household Income Trends 2025 yang dirilis Departemen Statistik Singapura (Singstat), pendapatan rumah tangga bulanan rata-rata di Negeri Singa kini mencapai SG$12.446 atau setara Rp165 juta per bulan.
Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berada di level SG$11.558.
Kenaikan tersebut tidak sekadar nominal. Setelah disesuaikan dengan inflasi, pendapatan rumah tangga Singapura tercatat tumbuh 6,8 persen secara riil, menandakan daya beli warga benar-benar membaik.
Bahkan jika dihitung per anggota rumah tangga, pendapatan rata-rata mencapai SG$4.160 per bulan atau sekitar Rp55,2 juta, naik 7,5 persen secara riil dibandingkan 2024.
Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, menilai tren ini sebagai bukti nyata peningkatan kesejahteraan pekerja.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari Channel News Asia, Wong menekankan bahwa pertumbuhan upah telah melampaui laju inflasi.
Menariknya, kenaikan gaji paling kuat justru dirasakan kelompok berpenghasilan rendah, lebih cepat dibanding kelas menengah dan atas. Hal ini memperkuat narasi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Namun, tingginya gaji warga Singapura tak bisa dilepaskan dari biaya hidup yang juga sangat mahal.
Data cost of living terbaru per 11 Februari 2026 menunjukkan, biaya hidup bulanan untuk satu orang diperkirakan mencapai SG$1.470 atau sekitar Rp19.615.606 di luar sewa.
Sementara keluarga dengan empat anggota membutuhkan sekitar SG$5.394 atau sekitar Rp71.977.266 per bulan, juga belum termasuk biaya tempat tinggal.
Sektor hunian menjadi beban terbesar. Sewa apartemen satu kamar di pusat kota Singapura rata-rata mencapai SG$3.428 atau sekitar Rp45.743.060 per bulan, sedangkan apartemen tiga kamar di pusat kota bisa menembus SG$7.234 per bulan.
Harga beli properti pun fantastis, dengan harga apartemen di pusat kota mencapai lebih dari SG$30.000 per meter persegi.
Biaya kebutuhan harian juga relatif tinggi. Makan di restoran murah dibanderol sekitar SG$12, sementara makan berdua di restoran kelas menengah bisa mencapai SG$90.
Harga bahan pokok seperti daging sapi, keju, dan susu jauh lebih mahal dibandingkan banyak negara Asia Tenggara.
Transportasi umum memang efisien, tetapi kepemilikan mobil sangat mahal, dengan harga mobil baru bisa menembus SG$200 ribu.
Singstat juga memperluas definisi pendapatan rumah tangga pada 2025, mencakup pendapatan non-pekerjaan seperti bunga tabungan, dividen investasi, sewa properti, hingga saldo Dana Pensiun Pusat (CPF).
Kebijakan ini relevan dengan struktur demografi Singapura yang menua, di mana semakin banyak rumah tangga mengandalkan pendapatan pasif.
Dengan gaji tinggi dan biaya hidup yang sama tingginya, Singapura tetap menjadi contoh ekstrem keseimbangan antara pendapatan besar dan pengeluaran besar yng menarik, namun penuh tantangan.***

Share this article
Gaji rata-rata warga Singapura tembus Rp165 juta per bulan. Namun biaya hidup, sewa rumah, dan kebutuhan harian juga sangat tinggi, membuat keseimbangan gaji besar dan pengeluaran besar jadi tantangan