AYOJAKARTA.COM - Warga Bekasi baru-baru ini dihebohkan oleh temuan di sebuah ruko kosong di Taman Puri Cendana, Desa Sumberjaya, Tambun Selatan.
Ruko di Bekasi yang tidak berpenghuni tersebut tiba-tiba mengonsumsi daya listrik sebesar 33 ribu volt-ampere (VA).
Kabar ini mendadak viral setelah diunggah oleh akun komunitas @txtdrbekasi di media sosial X.
Fenomena ini memicu kecurigaan adanya aktivitas tambang Bitcoin di lokasi tersebut.
Penambangan Bitcoin memang dikenal sebagai aktivitas yang sangat haus energi.
Nugroho Adi Sasongko dari BRIN menjelaskan bahwa mesin penambang bekerja dengan mekanisme "lotre komputasi".
Mesin-mesin ini melakukan triliunan perhitungan hash setiap detik hanya untuk mencari kombinasi angka yang tepat.
Bitcoin tidak bergantung pada bank sentral karena semua transaksi dicatat dalam blockchain atau buku besar digital.
Setiap transaksi yang masuk harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum dicatat secara permanen.
Para penambang mengumpulkan transaksi tersebut ke dalam sebuah blok digital dan bekerja keras menebak hash agar sesuai dengan target kesulitan jaringan.
Semakin banyak mesin yang bergabung dalam jaringan, maka tingkat kesulitan menebak hash tersebut akan semakin meningkat.
Hal ini memaksa para penambang untuk menggunakan perangkat keras khusus seperti ASIC yang harus menyala terus-menerus.
Mekanisme ini disebut Proof of Work (PoW) yang berfungsi sebagai sistem keamanan jaringan.
Besarnya konsumsi listrik Bitcoin di tingkat global sangat mencengangkan. Pada awal 2026, konsumsi listrik jaringan ini diperkirakan mencapai 170-180 terawatt-jam (TWh) per tahun.
Jumlah ini setara dengan 0,7 hingga 0,8 persen konsumsi listrik dunia. Sebagai perbandingan, angka tersebut mencakup separuh dari total konsumsi listrik nasional Indonesia pada tahun 2025.
Aktivitas komputasi skala besar ini bukan tanpa alasan. Direktur Eksekutif ICT Indonesia, Heru Sutadi, menyatakan bahwa penggunaan listrik jumbo ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan jaringan.
Para penambang harus mengeluarkan biaya energi yang besar agar jaringan tetap aman dari upaya penipuan atau peretasan transaksi.
Meskipun Bitcoin sangat boros energi, beberapa mata uang kripto lain mulai beralih ke teknologi yang lebih efisien.
Ethereum, misalnya, berhasil memangkas konsumsi energinya hingga lebih dari 99,9 persen setelah beralih ke mekanisme Proof of Stake pada 2022.
Namun, bagi penambang Bitcoin, listrik tetap menjadi modal utama yang harus tersedia dalam jumlah besar untuk menjaga operasional mereka.***
Share this article
Ruko kosong di Bekasi viral usai sedot listrik 33 ribu VA untuk tambang Bitcoin. Aktivitas penambangan bersistem Proof of Work ini boros energi karena butuh komputasi rumit demi keamanan jaringan.