AYOJAKARTA.COM - Kacang kedelai dan produk olahannya seperti tahu, tempe, susu kedelai, dan kecap memang masuk dalam daftar pantangan makanan setelah menjalani prosedur kuret.
Alasan utama di balik pantangan ini adalah karena kedelai mengandung asam fitat (phytic acid) dalam konsentrasi yang cukup tinggi.
Asam fitat merupakan senyawa nabati yang dapat mengikat mineral penting seperti zat besi, seng, dan kalsium, sehingga mengurangi penyerapan mineral-mineral tersebut dalam tubuh.
Setelah kuret, tubuh membutuhkan zat besi yang cukup untuk pembentukan sel darah merah baru, mengingat prosedur kuret seringkali menyebabkan perdarahan.
Ketika asupan zat besi terhambat oleh konsumsi kedelai, proses pemulihan sel dan jaringan yang rusak selama prosedur kuret dapat terganggu dan memerlukan waktu yang lebih lama.
Selain itu, penyerapan zat besi yang suboptimal dapat memperburuk kondisi anemia yang mungkin dialami pasien pascakuret, terutama jika sebelumnya telah mengalami perdarahan signifikan.
Kondisi ini tentu tidak diharapkan karena dapat memperlambat proses penyembuhan dan pemulihan kondisi fisik secara keseluruhan.
Alasan lain mengapa olahan kedelai tidak direkomendasikan setelah kuret adalah karena kandungan isoflavon pada kedelai yang berfungsi sebagai fitoestrogen, yaitu senyawa tumbuhan yang memiliki struktur dan sifat mirip dengan hormon estrogen dalam tubuh manusia.
Baca Juga: 6 Nama Obat Sakit Gigi Paling Ampuh dan Tidak Kambuh Lagi, Ada di Apotek
Fitoestrogen ini dapat berinteraksi dengan reseptor estrogen dalam tubuh dan berpotensi mempengaruhi keseimbangan hormonal pascakuret.
Pada fase pemulihan setelah kuret, tubuh membutuhkan waktu untuk mengembalikan keseimbangan hormonalnya secara natural.
Terutama ketika kuret dilakukan karena alasan yang berhubungan dengan gangguan hormonal atau komplikasi kehamilan.
Konsumsi kedelai yang mengandung fitoestrogen dalam jumlah tinggi dapat mengganggu proses normalisasi ini dan menyebabkan fluktuasi kadar estrogen yang tidak diinginkan.
Ketidakseimbangan hormonal ini dapat berdampak pada siklus menstruasi, yang pada akhirnya dapat mengacaukan proses pemulihan endometrium (lapisan rahim) setelah kuret, serta berpotensial menyebabkan ketidakteraturan siklus menstruasi dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa pantangan mengonsumsi olahan kedelai setelah kuret bersifat sementara dan tidak mutlak untuk semua kasus.
Umumnya, dokter menyarankan menghindari konsumsi kedelai dan produk olahannya selama 2-4 minggu pascakuret, tergantung pada kondisi kesehatan individual dan keparahan prosedur yang dilakukan.
Setelah periode ini, pasien dapat secara bertahap memasukkan kembali olahan kedelai dalam pola makannya, dimulai dengan porsi kecil dan tidak dalam frekuensi yang tinggi.
Baca Juga: Catat 3 Faktor Utama Penentu Kelulusan PPPK Tahap 2 2024, Siapkan dari Sekarang
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi pada produk seperti tempe dapat mengurangi kadar asam fitat.
Sehingga tempe mungkin lebih aman dikonsumsi dibandingkan produk kedelai non-fermentasi seperti tahu atau susu kedelai.
Sebagai alternatif sumber protein selama masa pemulihan, pasien dapat mengonsumsi protein hewani seperti ikan, telur, dan daging tanpa lemak, atau protein nabati lain seperti quinoa dan kacang-kacangan tertentu yang memiliki kadar asam fitat lebih rendah.
Penting bagi pasien untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai pantangan makanan yang spesifik untuk kondisi mereka.
Karena faktor-faktor seperti usia, status kesehatan umum, dan indikasi kuretase dapat mempengaruhi rekomendasi diet pasca-prosedur.***

Share this article
Kacang kedelai dan produk olahannya seperti tahu, tempe ternyata bisa menghambat proses pemulihan pasca kuret, ini alasannya.