AYOJAKARTA.COM - Gianni Infantino, Presiden FIFA, kini berada di tengah badai kritik yang tajam.
Posisinya di puncak organisasi sepak bola dunia tetap kokoh meski kepercayaan publik terus menurun.
Banyak pihak menilai FIFA sedang mengalami krisis kredibilitas terbesar sepanjang masa jabatan Infantino.
Hal ini dipicu oleh berbagai kontroversi yang muncul selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
FIFA dianggap terlalu fokus pada kepentingan bisnis dan mengejar keuntungan maksimal semata.
Sorakan penonton terdengar jelas saat seremoni final Piala Dunia 2026 berlangsung di New York New Jersey Stadium.
Giani Infantino disoraki bersama Donald Trump saat hendak menyerahkan trofi kepada tim nasional Spanyol.
Kejadian ini menunjukkan batas yang semakin tipis antara olahraga dan pertunjukan politik.
Banyak penonton merasa seremoni juara seharusnya menjadi milik para pemain dan staf tim.
Kehadiran pejabat yang sangat dominan di ruang publik memicu reaksi negatif dari para suporter.
Masalah lain yang muncul adalah gaya hidup kepemimpinan dan dampak lingkungan dari turnamen.
Selama kompetisi, Infantino tercatat menghadiri 43 pertandingan di 16 kota penyelenggara yang berbeda.
Ia menggunakan jet pribadi secara intensif untuk berpindah antar zona waktu dengan cepat.
Perjalanan ini diperkirakan menempuh jarak antara 50.000 hingga 60.000 mil lebih.
Emisi karbon yang dihasilkan dari penerbangan tersebut mendapat kritik keras karena dianggap tidak ramah lingkungan.
Kritik juga datang terkait kebijakan harga tiket yang dinilai sangat mahal bagi suporter.
Selain itu, kontroversi penggunaan Video Assistant Referee (VAR) tetap menjadi bahan perdebatan sepanjang turnamen.
Tekanan politik mulai muncul, termasuk desakan dari Partai Liberal Demokrat di Inggris.
Mereka meminta federasi sepak bola untuk mempertimbangkan opsi keluar dari keanggotaan FIFA.
Meski begitu, keluar dari FIFA bukan proses yang sederhana karena berkaitan dengan hak pertandingan internasional.
Di sisi internal, kekuatan politik Infantino nyaris tidak bisa digoyahkan sama sekali.
Ia tetap mendapat dukungan luas dari banyak asosiasi anggota yang memberikan stabilitas politik.
Dukungan internal ini sangat kuat meskipun legitimasi FIFA di mata publik berada di titik nadir.
Piala Dunia 2026 sendiri merupakan edisi pertama yang melibatkan 48 tim di tiga negara tuan rumah.
Keberhasilan menyelesaikan turnamen yang kompleks ini menjadi modal penting bagi masa depan kepemimpinan Infantino.***
Share this article
Presiden FIFA Gianni Infantino hadapi krisis kredibilitas usai Piala Dunia 2026. Sorotan tiket mahal, jet pribadi, hingga sorakan publik di final hiasi kritik bisnis, meski posisi politiknya kokoh.