AYOJAKARTA.COM - Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang kaya akan berbagai tanaman herbal berkhasiat.
Salah satu yang kini mulai mendapat perhatian internasional adalah biji kelor.
Selama ini, masyarakat Indonesia lebih mengenal daun kelor sebagai bahan herbal dengan segudang manfaat kesehatan.
Namun siapa sangka biji kelor juga memiliki potensi ekspor yang luar biasa di mata dunia.
Biji kelor kini masuk dalam jajaran komoditas ekspor unggulan Indonesia bahkan permintaan pasar dari luar negeri terus meningkat setiap tahunnya.
Negara-negara di Asia seperti Jepang, Tiongkok hingga Hongkong mulai aktif memburu biji kelor kering Indonesia.
Biji kelor di negara tersebut sebagai bahan baku obat herbal maupun suplemen kesehatan.
Sejak lama daun kelor dikenal sebagai superfood karena kandungan nutrisinya yang sangat tinggi.
Menurut F.G. Winarno yakni seorang pakar pangan nasional 100 gram daun kelor kering memiliki protein dua kali lipat lebih banyak dibanding yoghurt.
Bahkan vitamin A tujuh kali lebih tinggi dari wortel dan kalium tiga kali lebih tinggi dari pisang. Ada juga kalsium empat kali lebih tinggi dari susu, dan vitamin C tujuh kali lebih tinggi dari jeruk.
Tidak kalah hebatnya lagi biji kelor juga menyimpan manfaat besar yakni tinggi kandungan antioksidan, vitamin, dan mineralnya dipercaya mampu membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan.
Kelor dapat menjadi solusi berbagai masalah kesehatan mulai dari kolesterol, diabetes, hingga meningkatkan daya tahan tubuh.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian terus mendorong perluasan ekspor produk pertanian lewat program Gratieks atau Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor.
Salah satu fokusnya adalah mendorong produk herbal seperti kelor untuk memasuki pasar internasional.
Balai Karantina Pertanian di berbagai daerah juga aktif melakukan sertifikasi dan pemeriksaan terhadap komoditas ekspor herbal ini.
Seperti yang dilakukan di Cilegon.
Dimana biji kelor kering seberat 4,5 kg disertifikasi dan dikirim ke
Tiongkok bersama bahan herbal lainnya seperti pasak bumi dan rumput fatimah.
“Ini komoditas baru yang belum pernah kami sertifikasi sebelumnya, kami harap tren ekspor ini terus berkembang,” ujar Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon, Raden Nurcahyo.
Salah satu eksportir biji kelor asal Balikpapan, Iswandi bercerita bagaimana awal mula ketertarikan orang Jepang terhadap kelor.
Mereka yang kerap berkunjung ke Balikpapan melihat potensi pohon kelor yang tumbuh di kilometer 19.
Ketertarikan ini berujung pada permintaan ekspor yang terus berulang, bahkan kini mencapai ratusan kilogram.
Sayangnya kebutuhan ekspor yang besar belum bisa sepenuhnya dipenuhi karena terbatasnya lahan tanam kelor di Indonesia, yang saat ini baru mencapai kurang dari 1.000 pohon di beberapa wilayah.
Hal ini menunjukan peluang pasar ekspor yang besar dari biji kelor berpotensi menjadi komoditas andalan ekspor herbal Indonesia.
Sehingga harapannya peluang ini bukan hanya mendukung perekonomian petani lokal tetapi juga memperkenalkan kekayaan hayati nusantara ke pasar global.***
Share this article
Biji kelor kini masuk dalam jajaran komoditas ekspor unggulan Indonesia bahkan permintaan pasar dari luar negeri terus meningkat