AYOJAKARTA.COM - Keputusan Donald Trump menghapus unggahan kontroversial di media sosial kembali memicu perdebatan publik.
Foto yang sempat diunggah di platform Truth Social itu menampilkan dirinya dalam pose menyerupai sosok religius seperti Yesus, sebelum akhirnya ditarik setelah menuai kritik luas.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump membantah keras bahwa gambar tersebut dimaksudkan sebagai representasi dirinya sebagai figur religius.
Ia menegaskan bahwa gambar itu sebenarnya menggambarkan dirinya sebagai seorang dokter yang sedang membantu orang sakit, bahkan dikaitkan dengan kegiatan kemanusiaan seperti Palang Merah.
“Saya pikir itu saya sebagai dokter, membuat orang jadi lebih baik,” ujarnya, dilansir dari CNBC.com.
Donald Trump juga menyalahkan media yang disebutnya “berita palsu” karena menafsirkan gambar tersebut secara berbeda.
Kontroversi ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang lebih luas, termasuk kritik dari Pope Leo XIV terhadap kebijakan militer Amerika Serikat, khususnya terkait konflik di Iran dan Venezuela.
Trump sebelumnya secara terbuka menyerang Paus Leo XIV, menyebutnya lemah dalam isu keamanan dan kebijakan luar negeri.
Gambar yang diunggah tersebut diduga merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI), memperlihatkan Trump mengenakan jubah putih dengan cahaya yang terpancar dari tangannya, sementara latar belakangnya dipenuhi simbol-simbol patriotik Amerika.
Tanpa keterangan tambahan, unggahan ini langsung memicu spekulasi dan kritik tajam, bahkan dari kalangan konservatif sendiri.
Salah satu kritik keras datang dari komentator Kristen konservatif, yang menilai unggahan tersebut sebagai bentuk penistaan.
Bahkan, sekutu politik Trump seperti Marjorie Taylor Greene turut mengecam tindakan tersebut, menyebutnya tidak pantas dan berlebihan, terutama karena diunggah bertepatan dengan momen keagamaan penting.
Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance mencoba meredam polemik dengan menyebut unggahan tersebut sebagai bentuk humor yang disalahpahami publik.
Ia menilai gaya komunikasi Trump yang langsung dan tanpa filter memang sering memicu kontroversi, namun menjadi bagian dari pendekatan politiknya.
Insiden ini juga mengingatkan pada unggahan serupa sebelumnya, ketika Trump memposting gambar dirinya sebagai Paus setelah wafatnya Pope Francis, yang kala itu juga menuai kritik keras dari komunitas Katolik.
Di tengah meningkatnya sensitivitas publik terhadap isu agama dan penggunaan AI dalam propaganda visual.
Langkah Donald Trump ini dinilai sebagai contoh bagaimana teknologi dapat memperkeruh persepsi publik jika tidak digunakan secara hati-hati.
Meski unggahan tersebut telah dihapus, dampaknya masih terasa. Perdebatan soal batas humor, etika politik, dan penggunaan AI dalam komunikasi publik kini kembali mencuat.
Hal ini menunjukkan bahwa di era digital, satu unggahan bisa memicu krisis citra dalam hitungan jam.***

Share this article
Trump hapus unggahan AI dirinya mirip Yesus, mengklaimnya sebagai pose dokter. Meski disebut humor oleh JD Vance, aksi ini menuai kecaman luas, termasuk dari sekutu, karena dinilai menista agama.