TEBET, AYOJAKARTA.COM – Pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Salah satunya adalah buruh. Imbasnya, mereka melakukan aksi mogok kerja nasional yang dimulai 6 Oktober 2020 hingga 8 Oktober 2020.
Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara, menilai aksi mogok kerja ini tentu menjadi perhatian bagi pelaku usaha, terlebih jika aksi mogok kerja tersebut berlangsung cukup lama.
Bhima menilai, dampak dari mogok kerja yang direncanakan selama tiga hari itu akan berdampak pada penurunan produktivitas di berbagai sektor, baik manufaktur hingga sektor jasa.
AYO BACA : Apindo: Mogok Buruh Perburuk Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi
“Yang rugi pengusaha dan pemerintah karena produksi turun. Banyak target tak tercapai dan bagi pemerintah rugi karena penerimaan pajak berkurang,” kata Bhima kepada Ayojakarta, Selasa (6/10/2020).
Menurutnya, kerugian tersebut merupakan kesalahan pemerintah yang terlampau cepat mengejar pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja, padahal banyak poin dalam undang-undang sapu jagat tersebut yang tidak berpihak terhadap perlindungan tenaga kerja.
“Efek terhadap hubungan industrial di level paling kecil juga akan terpengaruh. Fatal pengesahan omnibus law yang terburu-buru tanpa mendengar aspirasi para pekerja,” ujar Bhima.
AYO BACA : Satgas Covid-19: Penyampaian Aspirasi Bisa Dilakukan Tanpa Melibatkan Massa
Diketahui, aski mogok buruh nasional terhadap pengesahan undang-undang sapu jagat itu juga membuat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terkikis pada perdagangan hari ini.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan mata uang garuda terkikis penguatannya. Dari awal perdagangan sempat menguat di 177 poin berubah drastis di penutupan pasar menjadi 65 poin.
“Ini akibat data internal kurang mendukung terhadap penguatan rupiah,” ujar Ibrahi dalam keterangannya yang diterima Ayojakarta.
Adapun pada penutupan perdagangan hari ini nilai tukar rupiah terhadap USD mengalami penguatan. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat ke posisi Rp14.735 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp14.735 per dolar AS.
Mata uang Garuda tersebut menguat 65 poin atau setara 0,44%. Rentang gerak harian rupiah berada di level Rp14.605 per dolar AS sampai Rp14.753 per dolar AS.
Menukil data Yahoo Finance, rupiah juga berada di jalur hijau pada posisi Rp14.710 per dolar AS. Rupiah menguat sebanyak 70 poin atau setara 0,47 persen, dari Rp14.780 per dolar AS di penutupan perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.712 per dolar AS atau menguat signifikan sebanyak 155 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan sebelumnya sebesar Rp14.867 per dolar AS.
“Dalam perdagangan besok pagi mata uang rupiah kemungkinan akan terjadi fluktuatif, namun kemungkinan ditutup menguat sebesar 20 poin hingga 70 poin di level Rp14.700 per dolar AS hingga Rp14.750 per dolar AS,” tutup Ibrahim.

Share this article
Pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Salah satunya adalah buruh.