AYOJAKARTA.COM -- Setiap tahun, kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia menyambut datangnya hari raya dengan hati yang penuh sukacita. Dalam tradisi Islam, hari raya disebut “Id” – sebuah istilah dari bahasa Arab yang berasal dari kata ‘aada–ya’udu, yang artinya kembali.
Dalam konteks ini, “Id” mengandung makna perayaan yang kembali datang secara berkala, sebagaimana musim-musim yang berganti. Di Indonesia, istilah ini sering diterjemahkan sebagai “hari raya”.
Dari dua hari raya yang disyariatkan dalam Islam, salah satunya adalah Idul Fitri, momen yang sangat dinanti-nanti oleh umat Islam.
Nama “Idul Fitri” sendiri bukan sekadar sebutan, namun memuat makna yang dalam. Disebut “Fitri” karena pada hari itu kaum Muslimin yang telah menunaikan ibadah puasa selama bulan suci Ramadan diperintahkan untuk berbuka.
Bukan hanya berbuka dalam arti harfiah, namun juga sebagai simbol kembalinya kepada kebiasaan makan dan minum yang sebelumnya ditahan.
Tanggal 1 Syawal menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadan, sekaligus momen dilarangnya puasa, sebagai bentuk syariat untuk menyambut hari kemenangan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.
Idul Fitri diawali dengan pelaksanaan salat berjamaah yang dikenal sebagai Salat Id, yang telah menjadi bagian dari sunnah Rasulullah SAW sejak beliau hijrah ke Madinah.
Salat ini tidak hanya ibadah formal, tetapi juga ungkapan syukur bersama atas nikmat Allah berupa kekuatan untuk menyelesaikan puasa sebulan penuh.
Baca Juga: Catat! Begini Aktivasi dan Login ASN Digital dengan MFA di Platform BKN, Ikuti Langkah Berikut
Sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih:
“Dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata: Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar biasa melaksanakan salat dua hari raya sebelum khutbah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Namun, muncul pertanyaan yang sering kita dengar: apakah benar Idul Fitri bermakna kembali suci?
Banyak di antara kita yang memahami Idul Fitri sebagai momentum penyucian diri, seolah-olah setelah melewati Ramadan, dosa-dosa pun terhapus, dan kita kembali ke fitrah. Suci seperti bayi yang baru lahir.
Sebagian bahkan menganggap kata “Fitri” seakar dengan “Fitrah”, lalu disimpulkan bahwa hari raya ini adalah waktu untuk kembali suci.
Baca Juga: Penerima Baru KJP Plus Tahap 1 Tahun 2025 Belum Bisa Cairkan Dana? Harus Lakukan Proses Berikut
Namun, dalam kajian bahasa, “Fitri” lebih dekat maknanya dengan al-ifthar (berbuka puasa), sedangkan “Fitrah” bermakna keadaan asal manusia yang bersih dan lurus.
Secara syariat, Idul Fitri lebih menandai kebahagiaan dan rasa syukur karena berhasil menunaikan kewajiban puasa, bukan jaminan otomatis bahwa seseorang telah bersih dari dosa.
Kesucian atau kembali suci adalah tujuan mulia yang kita semua harapkan, namun itu bukan hadiah instan yang serta-merta kita raih. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kamu bertakwa.”
Ayat ini menunjukkan bahwa takwa adalah proses yang terus diupayakan, bukan status tetap yang langsung melekat hanya karena kita berpuasa. Takwa adalah perjalanan hidup yang terus berjalan, dan begitu pula dengan kesucian hati.
Jadi, apakah Idul Fitri berarti "kembali suci"? Secara harfiah, tidak sepenuhnya demikian. Namun secara maknawi, Idul Fitri menjadi titik tolak untuk memperbaharui niat, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada Allah SWT.
Share this article
Dari dua hari raya yang disyariatkan dalam Islam, salah satunya adalah Idul Fitri, momen yang sangat dinanti-nanti oleh umat Islam.