AYOJAKARTA.COM - Busa limbah yang sering muncul di permukaan air pintu air Jakarta merupakan tumpukan busa yang terbentuk akibat berbagai zat pencemar dari limbah domestik dan industri.
Fenomena ini bukan hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mengancam ekosistem perairan.
Penyebab utama munculnya busa limbah di pintu air dapat dibagi menjadi tiga faktor utama:
1) Faktor utama berupa tingginya kadar bahan organik seperti BOD (Oksigen Biokimia) dan COD (Oksigen Kimiawi), kehadiran surfaktan sintetis dari sabun dan deterjen, serta kondisi hipertropik dengan algae bloom yang ditunjukkan oleh tingginya kadar TP (Fosfor Total) yang menghasilkan surfaktan alami dari dekomposisi biomassa;
Baca Juga: Jangan Salah Langkah! Ini Cara Tepat Cek Kartu KKS PKH dan BPNT agar Saldo Dijamin Ada
2) Faktor pendukung yaitu kemungkinan intrusi air laut yang mengandung alkali dan bereaksi dengan minyak atau lemak sehingga menghasilkan sabun (safonifikasi);
3) Faktor pencetus berupa turbulensi mekanis atau aerasi karena perbedaan level air yang menyebabkan udara terperangkap dalam air sehingga menimbulkan busa.
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan berbagai strategi penanggulangan yang komprehensif untuk mengatasi masalah busa limbah ini.
Langkah-langkah penanggulangan yang diterapkan meliputi:
1) Deteksi awal pencemaran melalui swapantau harian level air, sistem CCTV untuk monitoring, dan identifikasi jenis busa (alami atau sintetis);
2) Analisa parameter pencemar dengan pengambilan sample air, analisa rutin kualitas air, serta identifikasi sumber kegiatan dan aktivitas sekitar;
3) Penanggulangan secara fisik/mekanis dengan penerapan jaring terapung sebagai metode fisik untuk mengisolasi, mengumpulkan, atau menahan penyebaran busa limbah di permukaan air;
Baca Juga: Komitmen Pemprov DKI Jakarta Ciptakan 4 Fasilitas Trotoar yang Ramah Lingkungan, Warganet Nyinyir: Jangan di Pusat Aja
4) Penggunaan vacuum yang efektif untuk penyedotan busa dari permukaan air dan dibuang ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) eksisting;
5) Pemanfaatan high pressure sprayer sebagai alat untuk memecah busa secara cepat di permukaan;
6) Pengerukan lumpur (dredging) ketika sedimentasi meningkatkan jumlah polutan dalam air, sehingga pengerukan dilakukan secara rutin.
Setelah penanggulangan darurat, DLH DKI Jakarta juga menerapkan langkah-langkah pemulihan jangka panjang untuk memastikan kualitas air tetap terjaga.
Langkah pemulihan biologis yang diterapkan antara lain:
1) Pemasangan aerator permukaan sebagai perangkat mekanis yang meningkatkan kontak udara dan air limbah untuk menaikkan oksigen terlarut (DO) serta berperan dalam penanganan busa;
2) Penggunaan mikroorganisme pengurai surfaktan yang merupakan mikroorganisme efektif untuk menguraikan polutan air limbah secara biologis;
Baca Juga: KPM PKH dan BPNT Wajib Tahu! 4 Jenis Bansos Ini Cair Serentak di PT Pos Indonesia
3) Penanaman tanaman terapung yang berfungsi untuk menyerap polutan dalam air;
4) Pemanfaatan ecoenzyme yang membantu degradasi alami organik dan surfaktan serta meningkatkan aktivitas mikroba.
Untuk upaya pencegahan jangka panjang, masyarakat juga diajak berpartisipasi melalui:
1) Pengurangan limbah dengan mengurangi penggunaan deterjen dan bahan pembersih lainnya dalam rumah tangga, serta menggunakan bahan pembersih yang ramah lingkungan;
2) Pengolahan limbah dengan memastikan air limbah diolah dengan baik sebelum dibuang ke badan air.
Dengan kombinasi penanganan teknis dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan fenomena busa limbah dapat diminimalisir dan kualitas air di Jakarta semakin membaik.***

Share this article
Busa limbah yang sering muncul di permukaan air pintu air Jakarta merupakan tumpukan busa yang terbentuk akibat berbagai zat pencemar.