AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Provinsi Jakarta memasuki fase baru dalam pengendalian banjir.
Gubernur Pramono Anung Wibowo menargetkan pengerukan Kanal Banjir Barat rampung dalam waktu satu tahun sebagai langkah strategis menekan risiko genangan di ibu kota.
Langkah ini ditandai dengan peninjauan langsung pengerukan di segmen Pintu Air Manggarai hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy), Jakarta Pusat, pada Jumat, 10 April 2026.
Proyek ini mencakup pengerukan sedimen sepanjang 8.079 meter dengan total volume mencapai sekitar 179.269 meter kubik.
Kanal Banjir Barat sendiri memiliki lebar bervariasi antara 30 hingga 100 meter dan menjadi titik krusial karena merupakan pertemuan aliran Sungai Ciliwung dan Kali Krukut.
Selama bertahun-tahun, kawasan ini mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur dan sampah.
“Ini lokasi strategis untuk mengatasi banjir. Sudah lama tidak dikeruk, sehingga kapasitas tampungnya menurun,” ujar Pramono Anung dalam video terbaru yang diunggah ke media sosial Instagram pribadinya.
Pengerukan dibagi dalam tiga segmen utama, yakni dari Pintu Air Manggarai ke Stasiun Karet, dilanjutkan ke Pintu Air Karet, hingga Jalan Kyai Tapa.
Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas aliran air sekaligus memperlancar drainase di sejumlah wilayah rawan seperti Setiabudi, Tanah Abang, Menteng, Gambir, Palmerah, hingga Grogol Petamburan.
Normalisasi Sungai Kembali Digenjot
Selain pengerukan, Pemprov DKI juga melanjutkan proyek normalisasi sungai yang sempat terhenti sejak 2017.
Fokus utama mencakup Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut sebagai bagian dari strategi jangka menengah pengendalian banjir.
Pramono memastikan proses pembebasan lahan untuk normalisasi hampir rampung.
Sebanyak 14 penetapan lokasi telah disetujui dan sebagian besar sudah diselesaikan tanpa gejolak berarti di masyarakat.
Setelah pembebasan lahan tuntas, pembangunan tanggul akan dilanjutkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat guna memperkuat kapasitas sungai dalam menampung debit air saat hujan deras.
Antisipasi Cuaca Ekstrem dan El Nino
Di sisi lain, Pramono juga menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta untuk melakukan perawatan intensif terhadap pompa air di seluruh wilayah.
Langkah ini menjadi penting mengingat potensi El Nino yang diprediksi terjadi pada April hingga September 2026.
Meski identik dengan kemarau panjang, pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi banjir akibat cuaca ekstrem yang tidak menentu.
Peran Vital Ciliwung
Sebagai salah satu tulang punggung sistem drainase Jakarta, Sungai Ciliwung menyumbang sekitar 40 persen aliran air di ibu kota.
Karena itu, normalisasi sungai ini menjadi kunci dalam mengurangi risiko banjir secara signifikan.
Dengan kombinasi pengerukan Kanal Banjir Barat, normalisasi sungai, pembangunan tanggul, serta optimalisasi pompa air, Pemprov DKI Jakarta menargetkan penanganan banjir yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Jika seluruh strategi berjalan sesuai rencana, bukan hanya risiko banjir yang berkurang, tetapi juga kualitas hidup warga Jakarta akan meningkat secara signifikan.***

Share this article
Gubernur Pramono Anung menargetkan pengerukan Kanal Banjir Barat dan normalisasi sungai (Ciliwung, Krukut, Cakung) rampung setahun guna menekan banjir Jakarta serta mengoptimalkan pompa air ibu kota.