AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Provinsi Jakarta memasuki fase baru dalam upaya pengendalian banjir.
Gubernur Pramono Anung Wibowo menetapkan target ambisius untuk melanjutkan proyek normalisasi sungai yang selama ini terhambat, khususnya di Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut.
Langkah ini menjadi krusial mengingat normalisasi Sungai Ciliwung sempat terhenti sejak 2017.
Kini, proyek tersebut kembali dilanjutkan sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk mengatasi banjir yang kerap melanda ibu kota.
Fokus pada Pembebasan Lahan dan Infrastruktur
Pramono memastikan bahwa proses pembebasan lahan untuk normalisasi Ciliwung telah hampir rampung.
Bahkan, sebanyak 14 penetapan lokasi (penlok) telah ditandatangani dan sebagian besar sudah diselesaikan tanpa gejolak di masyarakat.
“Pembebasan lahan berjalan lancar, ini menjadi dasar untuk melanjutkan pembangunan tanggul,” ujar Pramono.
Setelah tahap ini selesai, pembangunan tanggul akan segera dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Infrastruktur ini menjadi komponen penting untuk meningkatkan kapasitas sungai dalam menampung debit air, terutama saat curah hujan tinggi.
Perawatan Pompa dan Antisipasi El Nino
Selain normalisasi sungai, Pramono juga menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk melakukan perawatan intensif terhadap pompa air di seluruh wilayah Jakarta.
Langkah ini dilakukan sebagai persiapan menghadapi potensi perubahan cuaca ekstrem.
Fenomena El Nino diprediksi akan terjadi pada April hingga September 2026, yang berpotensi menyebabkan musim kemarau panjang.
Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko banjir yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Peran Vital Ciliwung dalam Pengendalian Banjir
Sungai Ciliwung memiliki peran strategis dalam sistem drainase Jakarta. Sekitar 40 persen aliran sungai di ibu kota bergantung pada daerah aliran sungai (DAS) ini.
Oleh karena itu, normalisasi Ciliwung menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko banjir.
Selain Ciliwung, normalisasi juga akan dilakukan di Cakung Lama dan Krukut, yang selama ini dikenal sebagai titik rawan genangan.
Pemerintah berharap dengan pendekatan yang lebih terintegrasi, masalah banjir dapat ditangani secara lebih efektif.
Strategi Jangka Menengah yang Berkelanjutan
Pramono menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara instan.
Dibutuhkan perencanaan matang dan implementasi berkelanjutan agar hasilnya optimal.
Dengan kombinasi antara normalisasi sungai, pembangunan tanggul, serta perawatan pompa air, Pemprov DKI Jakarta menargetkan penurunan signifikan risiko banjir dalam beberapa tahun ke depan.
Langkah ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta serius membenahi sistem pengelolaan air.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini bukan hanya mengurangi banjir, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga secara keseluruhan.***

Share this article
Gubernur Pramono percepat normalisasi Ciliwung, Cakung Lama, & Krukut lewat pembebasan lahan lancar. Selain tanggul, perawatan pompa diintensifkan guna antisipasi banjir meski ada ancaman El Nino.