AYOJAKARTA.COM – Salah satu strategi yang diberlakukan oleh para kontestan Pilkada Jakarta adalah dengan merekrut Tim Sukses dari kalangan tokoh populer non Betawi.
Selain dipercaya akan menjadi pendongkrak popularitas, kehadiran tokoh populer bukan dari warga Betawi dalam barisan tim sukses Pilkada Jakarta juga akan memicu elektabilitas.
Sehubungan dengan hadirnya tim sukses tokoh populer dalam ajang Pilkada Jakarta yang tidak berasal dari masyarakat Betawi, Budayawan JJ Rizal memberi tanggapan.
Menurut pria yang memiliki nama kecil Jeje atau JJ, kontestasi Pilkada Jakarta sebagaimana dengan pemilihan terdahulu hanya merupakan gimmick politik.
Sepanjang sejarah Jakarta, JJ menilai masyarakat Betawi tidak mengalami perubahan yang signifikan setiap kali terjadi transisi kepemimpinan.
Baca Juga: Berapa Gaji Petugas KPPS Pilkada 2024? Ternyata Segini Besaran Nominalnya
“Banyak gubernur dan wakil gubernurnya yang orang Betawi, tapi nasib orang Betawi nggak berubah,” ungkap JJ, dikutip dari kanla YouTube METRO TV, Rabu, 18 September 2024.
Sehingga proses pemilihan kepala daerah khususnya di Jakarta, menurut JJ hanya merupakan suatu agenda politik yang tidak berdampak secara langsung dan signifikan.
Setiap transisi kepemimpinan gubernur di Jakarta serta keterlibatan sejumlah tokoh populer yang dikenal karena kemampuan berhumor, merupakan indikasi kegilaan.
Mengutip pernyataan Gus Dur yang pernah menyebut bahwa humor merupakan solusi atas kegilaan, hal tersebut menurut JJ memiliki relevansi dengan peradaban pada masa kini.
“Jadi kalau sekarang saya lihat ada Timses seorang komedian, saya pikir memang situasi benar-benar sudah gila,” jelasnya.
Baca Juga: Gampang Banget! Begini Cara Daftar Petugas KPPS Pilkada 2024, Cuan?
Ajang Pilkada Jakarta yang banyak diwarnai oleh kehadiran para tokoh dari berbagai atribut keahlian tanpa menghadirkan penyelesaian, menurut JJ hanya merupakan sebuah dagelan.
JJ menganggap pernyataan dari ketiga paslon yang cenderung berjarak dengan realitas kehidupan masyarakat Jakarta, merupakan indikasi lemahnya legitimasi kepemimpinan.
Tidak jauh berbeda dengan Budayawan JJ Rizal, tanggapan senada terkait perhelatan Pilkada Jakarta juga disampaikan oleh Pengamat Politik Hendri Satrio.
Hendri Satrio atau Hensat menilai, Pilkada Jakarta memang bisa jadi merupakan suatu pertunjukan yang sudah terkonsep dan terencana.
Hilangnya Anies dalam radar pencalonan, masuknya RK yang disusul dengan drama hingga kemunculan duet Pramono-Rano di akhir pencalonan merupakan sebuah pertanyaan.
Keberhasilan pasangan Dharma-Kun yang menambah tensi pertunjukan serta keikutsertaan Siti Fadila dalam barisan Tim Sukses, juga menjadi indikasi adanya dagelan.
Keikutsertaan tim sukses dari kalangan populer untuk mendongkrak elektabilitas, menurut Hendri merupakan bentuk ketidak percayaan diri para cagub-cawagub.
“Jadi kalau ini dagelan atau nggak, nanti kita lihat pas masa kampanye, kalau mereka adem-ayem sudah bisa dipastikan siapa juaranya,” jelas Hensat. ***

Share this article
Sepanjang sejarah Jakarta, JJ menilai masyarakat Betawi tidak mengalami perubahan yang signifikan setiap kali terjadi transisi kepemimpinan.