AYOJAKARTA.COM – Diusung Partai Nasdem, Anies Baswedan telah dipilih untuk maju sebagai Capres (Calon Presiden) pada Pilpres 2024 mendatang.
Bahkan Anies Baswedan sudah sering melakukan safari politik ke berbagai daerah demi menjaring dukungan saat Pilpres 2024 nanti.
Salah satu modal yang ditawarkan oleh Anies Baswedan sebagai Capres 2024 nanti adalah rekam jejaknya saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Baca Juga: Ferdy Sambo Divonis Mati, Ini Bagian Tubuh yang Disasar oleh Algojo
Seperti yang disampaikan Anies Baswedan berikut ini yang telah dikutip Ayojakarta.com pada siaran TV One News Kamis 16 februari 2023.
“Jadi saya sampaikan dalam paparan dalam diskusi bahwa menyelesaikannya tidak bisa sama untuk semua tempat, setiap tempat setiap masalah itu punya keunikan. Tapi ada kata kuncinya, bereskan soal kesenjangan ini,” kata Anies.
“Lalu bagaimana menunjukkan bahwa itu akan dibereskan, akan diselesaikan, maka lihat rekam jejak. Makanya saya sering sampaikan begini, menyampaikan visi itu baik, menyampaikan misi itu baik, tapi itu hanya kredibel kalau ditopang dengan rekam jejak,” ujar Anies menawarkan rekam jejaknya.
“Karena visi dan misi itu sifatnya masa depan tidak bisa dibuktikan, jadi kalau anda membandingkan visi misi, itu membandingkan imajinasi. Karena itu belum ada. Tapi rekam jejak ada. Dan kami menawarkan rekam jejak, Jakarta,” tambahnya dengan tegas.
Anies kemudian menceritakan rekam jejaknya dalam membangun Jakarta yang selama ini ditawarkan dalam safari politiknya.
“Jakarta ini terdiri daratan dan kepulauan, dan ada kesenjangan yang luar biasa, antara Jakarta kepulauan dan Jakarta daratan. Kebutuhan pangan misalnya lebih mahal, transportasi lebih mahal, kesehatan terbatas, listrik terbatas,” katanya.
“Jadi kami tempatkan pesan begini, jarak kilometer pulau-pulau di Kepulauan Seribu dengan Monas bisa jadi jauh, tapi mereka nol kilometer jaraknya dengan Jakarta, karena mereka adalah Jakarta,” ucap Anies.
“Apa yang kita lakukan, pulau terjauh, Pulau Sebira, itu lebih dekat dengan Lampung daripada dengan Dermaga Sunda Kelapa, tapi itu bagian dari kita. Listrik dipastikan hadir, air bersih disiapkan disitu kemudian kita membuat Pasar Grosir,” terang Anies lagi.
Baca Juga: CEK FAKTA: Pemerintah Indonesia Ambil Untung 500 Persen dari Biaya Ibadah Haji, Benarkah?
Menurut Anies, alasan mengapa kebutuhan pangan di Kepulauan Seribu itu mahal, dikarenakan warung-warung di sana harus belanja ke daratan untuk memenuhi ke butuhan warungnya.
“Lalu apa yang kita kerjakan? Kita membuat Pasar Induk di pulau sehingga mereka tidak lagi belanja ke daratan tapi mereka ke pasar induk kita, sehingga yang mengabsorsi biaya transportasi itu negara,” jelas Anies.
“Negara hadir disiapkan di sana, namanya Jakgrosir harganya sama dengan Pasar Induk Kramat Jati, tapi yang boleh beli disitu hanya warung, tidak boleh warga beli,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Anies Baswedan juga menegaskan bahwa masalah di Pulau Seribu itu sudah ada berpuluh-puluh tahun lalu begitu juga masalah yang dihadapinya.
Baca Juga: Luar Biasa! Ternyata Ini yang Didapatkan Ronny Talapessy Selama Jadi Pengacara Richard Eliezer
“Nah ini kan sudah terjadi kita sudah miliki Pulau Seribu itu berpuluh-puluh tahun. Dan mereka sudah mengalami kemahalan harga itu berpuluh-puluh tahun,” katanya.
“Nah ini contoh bukan hanya bicara visi misi masa depan, tapi ini rekam jejaknya nih,” ujar Anies Baswedan lagi.
Bahkan menurut Anies, transportasi di Jakarta sekarang mereka (warga Pulau Seribu) dengan menggunakan kartu Jaklinko, dapat naik kapal hingga ke dermaga di daratan dan meneruskan perjalanan dengan transportasi darat hanya menggunakan satu pembayaran.
“Ini poinnya adalah masalahnya bervariasi, kata kuncinya adalah diselesaikan tiap tempat beda-beda caranya tapi prinsipnya sama, menghadirkan kesetaraan,” terangnya lagi.***

Share this article
Anies kemudian menceritakan rekam jejaknya dalam membangun Jakarta yang selama ini ditawarkan dalam safari politiknya.