TEBET, AYOJAKARTA - Salah satu instrumen deteksi dini seseorang terpapar Covid-19 adalah dengan melakukan tes cepat Antigen. Dengan tes ini, hasil reaktif Covid-19 atau sebaliknya bisa diketahui dalam waktu kurang dari 10 menit.
Belakangan, alat tes cepat Antigen bisa didapat masyarakat dengan mudah di apotek maupun platform jual beli online. Penggunaannya yang mudah membuat masyarakat merasa percaya diri bisa melakukan tes secara mandiri.
Namun, sejumlah ahli tidak merekomendasikan pelaksanaan tes Antigen secara mandiri ini. Pasalnya, tes yang dilakukan mandiri bisa menghasilkan false negative atau negatif palsu.
"Saya tidak menganjurkan Anda melakukan tes usap Antigen mandiri," kata Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban lewat cuitan di akun Twitter pribadinya @ProfesorZubairi, Kamis (12/8/2021).
Pria yang akrab disapa Prof Beri ini mengakui, melakukan tes Antigen mandiri selain hemat biaya juga tidak menimbulkan antrean. Sehingga, seseorang tidak perlu datang ke klinik yang berpotensi adanya kerumunan.
Namun demikian, Prof Beri mengingatkan perihal akurasi hasil tes yang dilakukan secara mandiri tersebut. Termasuk di antaranya soal ketepatan dalam mengambil sampel yaitu cairan pada ari rongga hidung.
Menurut Prof Beri, dalam pengambilan sampel itu alat yang berupa cotton bud harus sampai pada nasofaring, yang posisinya terletak di belakang rongga hidung dan di balik langit-langit mulut.
"Jika dilakukan mandiri, ada kemungkinan hanya sampai rongga hidung saja dan yang terlambil itu adalah air liur, bukan lendir," tandas Prof Beri.
Karena yang terambil dalam praktik tes mandiri adalah air liur, maka alat tes Antigen dipastikan akan kesulitan dalam mendeteksi virus. Hal ini yang kemudian memunculkan adanya false negative atau negatif palsu.
Persoalan tes mandiri ini akan semakin pelik jika ternyata hasilnya positif. Prof Beri menyebutkan, seseorang tidak akan bisa mendiagnosis diri sendiri apakah cukup dengan isolasi mandiri atau harus dirawat pasca hasil positif dari tes Antigen mandiri tadi.
Pasalnya, kata Prof Beri, banyak orang yang positif Covid-19 memerlukan perawatan intensif di rumah sakit. Di antara perawatan itu misalnya infus, suntikan Heparin, tambahan oksigen, hingga obat-obatan seperti Dexamethasone, Remdesivir, Favipiravir, dan sebagainya.
"Kalau orang itu seharusnya perlu tindakan medis, kemudian tidak mendapatkannya, ya akan berbahaya untuk jiwanya," tegas Prof Beri.
Dalam hal ini, Prof Beri memberikan pengecualian bagi pelaksanaan tes Antigen mandiri yang didampingi oleh seseorang profesional di bidangnya. Pendampingan, kata dia, tidak perlu langsung, namun bisa dilakukan dengan instrumen panggilan video.
Dengan adanya pendampingan, seseorang yang hasilnya positif bisa mendapatkan rekomendasi lanjutan, apakah cukup dengan isolasi mandiri atau harus dirawat di rumah sakit.
Selain itu, pria 74 tahun ini juga mengingatkan bahwa tes Antigen adalah instrumen untuk deteksi dini. Hasilnya tetap perlu divalidasi dengan tes usap polymerase chain reaction atau PCR.
"Yang juga penting adalah, Anda harus melapor ke petugas puskesmas jika hasil tes Antigen positif, demi kepentingan pendataan dan memutus mata rantai Covid-19," pungkasnya

Share this article
Sejumlah ahli tidak merekomendasikan pelaksanaan tes Antigen secara mandiri ini. Tes yang dilakukan mandiri bisa menghasilkan negatif palsu