TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Berikut penjelasan tentang tujuh macam yang membuat makruh puasa Ramadan seperti dilansir laman Bincang Syariah, bincangsyariah.com.
Syahdan, puasa Ramadan hukumnya wajib. Puasa merupakan bagian dari rukun Islam. Kewajiban berpuasa itu termaktub dalam firman Allah dalam Q.S al-Baqarah ayat 183. Allah berfirman;
Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn
Artinya; Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa.
Ketika berpuasa seorang dituntut untuk menjaga puasanya agar sempurna. Tak kurang apapun. Kesempurnaan puasa, akan menambah nilai dan pahala dari Allah SWT. Dengan demikian, puasa yang dilakukan tak sia-sia semata. Ulama menjelaskan; “Agar puasa tak hanya semata menahan lapar dan dahaga saja”.
Salah satu yang mengurangi kesempurnaan puasa adalah mengerjakan pelbagai macam yang membuat puasa makruh,. Nah berikut tujuh macam yang membuat puasa ramadahan makruh.
Sebagaimana termaktub dalam kitab At- Taqriratu as sadidatu fil Masaili al Mufidah, karya Habib Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al Kaff. Habib Syekh Al Kaff mengatakan ada delapan hal yang membuat makruh puasa Ramadan.
Pertama, memamah atau menguyah makanan. Memamah makanan merupakan sesuatu yang membuat makruh puasa. Kemudian timbul pertanyaan, “bagaimana hukum memamah roti yang akan diberikan kepada anaknya yang masih bayi?”
Dalam perkara ini, Imam Nawawi dalam kitab al Majmu’ Syarah al Muhazzab, Jilid 6 mengatakan tidak makruh hukumnya seorang ibu memamah atau mengunyah roti yang akan diberikan kepada anaknya.
Imam Nawawi dalam kitab al Majmu’ Syarah al Muhazzab, Jilid 6, halaman 354 berkata;
Artinya: Makruh bagi orang yang puasa, mengunyah atau memamah roti dan selainnya tanpa ada uzur. Begitu pun juga (makruh) mencicipi kaldu dan cuka makanan dan selain keduanya, selama yang ia kunyah atau mamah itu tak sampai masuk ke kerongkongannya, maka menguyah dan mencicipi makanan tersebut tak membatalkan puasa.
Kedua, mencicipi makanan atau masakan. Perbuatan ini termasuk yang membuat puasa makruh. Akan tetapi ketika ada hajat, maka mencicipi makanan tak membuat puasa makruh.
Syekh Al Kaff mengatakan;
Artinya: mencicipi makanan tanpa hajat dan tak sampai masuk makanan ke kekerongkongan dalam, maka makruh hukumnya. Tetapi ketika ada hajat, maka tak makruh.
Ketiga, bersiwak ketika matahari telah condong (lewat tengah hari). Pasalnya bersiwak akan menghilangkan bau mulut. Namun berbeda dengan puasa Sunah, maka bersiwak ketika puasa sunah maka hukumnya boleh.
Keempat, mandi dengan berendam. Ketentuan hukum ini, berlaku juga bagi mandi wajib—hukumnya tetap makruh. Dasar hukum makruh tersebut, dikawatirkan akan masuk air ke dalam mulut. Dan ini akan membatalkan puasa.
Kelima, berbekam. Pada siang hari bulan Ramadan, berbekam hukumnya adalah makruh.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari (nomor Hadis 1938 ) dan Imam Muslim (1202). Nabi bersabda;
Artinya: Dari Ibn Abbas semoga Allah meridhai keduanya, dari Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya beliau berbekam, padahal beliau sedang berpuasa.
Keenam, berkumur-kumur setelah puasa. Pengertian berkumur-kumur di sini—sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shofwatu Zubad , karya ulam besar, Ibn Ruslan—, adalah mengeluarkan air dari mulutnya. Perbuatan ini, kata Ibn Rusla akan membuat keberkahan puasa Ramadan hilang.
Ibn Ruslan berkata;
Maka, hilang keberkahan Ramadan, ketika mengeluarkan air dari mulutnya.
Ketujuh, yang membuat makruh puasa adalah kekenyangan dan banyak tidur. Ini termasuk perkara yang membuat puasa makruh. Menurut Habib Syekh Al Kaff, banyak tidur dan terlalu kenyang membuat puasa kurang berfaedah.
Demikian penjelasan tujuh macam yang membuat makruh puasa Ramadan.
(*Artikel ini tayang di laman Bincang Syariah, bincangsyariah.com dengan tautan https://bincangsyariah.com/kalam/tujuh-macam-yang-membuat-makruh-puasa-ramadhan/)

Share this article
Tujuh Hal yang Makruh saat Puasa Ramadan