JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 yang menggoncang Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, menimbulkan keprihatinan berbagai pihak. Namun, di tengah bencana itu masih ada informasi bohong yang beredar di masyarakat.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Robikin Emhas menegaskan masyarakat diminta bijaksana dalam menyikapi bencana dan tidak menyebar berita bohong atau hoaks seputar gempa.
"Dengan segala hormat mohon tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan secara salah momentum musibah ini untuk membuat dan menyebarkan hoaks maupun fake news, apalagi ujaran bernada kebencian," kata Robikin dalam keterangan tertulis, Jumat (15/1/2021).
"Kalau belum memiliki kesanggupan untuk membantu korban terdampak, cukup bagi kita turut mendoakan atau menunjukkan sikap empati dengan baik."
Duka yang dirasakan masyarakat Majene dan Mamuju adalah duka yang dirasakan masyarakat Indonesia.
Masyarakat diminta untuk memperkuat solidaritas membantu meringankan korban bencana alam.
Saat ini, NU Peduli Bencana tengah bergerak menuju lokasi terdampak gempa untuk membantu para korban.
"Semoga para korban terdampak diberi kekuatan, kesabaran dan ketabahan menghadapi musibah yang terjadi," tuturnya.
Majene sudah diguncang gempa 28 kali. Terutama ada dua gempa besar magnitudo besar 5,9 dan 6,2 skala richter di kawasan Sulawesi Barat.
Gempa tersebut terjadi di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene. Di sana terancam terjadi longsor di bawah laut sehingga memungkinkan terjadinya tsunami.
Terkait hal itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati meminta warga di sekitar lokasi gempa tak berada di bibir pantai.
"Kondisi batuan diguncang dua kali bahkan 28 kali, sudah rapuh dan pusat gempa ada di pantai. Nah memungkinkan untuk terjadinya longsor ke dalam laut atau longsor bawah laut sehingga masih atau dapat pula berpotensi terjadi tsunami apabila ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa di pantai atau di pinggir laut," kata Dwikorita dalam jumpa pers.
BMKG memprediksi potensi gempa susulan yang lebih besar berdasarkan analisis sejarah gempa bumi yang pernah terjadi di sekitar Sulawesi Barat pada 1969 silam.
"Kami menganalisis masih dimungkinkan adanya gempa susulan yang cukup kuat seperti dini hari tadi atau sedikit lebih tinggi lagi, masih dimungkinkan," tegasnya.
Episenter gempa hari ini terletak pada koordinat 2,98 LS dan 118,94 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 6 kilometer arah Timur Laut Majene, Sulawesi Barat pada kedalaman 10 kilometer.

Share this article