YOGYAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Bekas teroris yang pernah terjerumus dalam Perang Moro dan ditangkap di Afganistan, Muhamad Inam menuturkan, ia dan empat rekannya sesama mantan teroris mengikuti upacara HUT RI yang diselenggarakan di lahan bekas tebing Padukuhan Bawuran I Desa Bawuran Kecamatan Pleret Bantul, sisi barat TPST Piyungan.
Kembali ke ibu pertiwi membuatnya kini menyatu dengan bangsa, serta mengakui bagaimana susahnya para pejuang zaman dulu mempertahankan kemerdekaan. Muhammad Inam menceritakan, empat rekannya dari sesama eks teroris yakni Saefudin teroris yang pernah terlibat perang Moro dan ditangkap di Afganistan, Fajar yang merupakan mantan teroris yang terlibat bom buku, alias Abu Akas (Sumarno) dan Hasan yang terlibat bom Solo.
Muhammad Inam mengaku upacara tersebut ia jalankan sesuai dengan kesadaran diri sendiri. Lelaki yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Amrozi pengebom di Bali ini pun sempat merasa berdosa karena pernah menjadi teroris.
"Mudah-mudahan di maafkan apapun dosa kita,"harapnya. Upacara yang diikuti 5 eks napi terois itu digelar bersama Komunitas Warga TPST Piyungan
Wakil Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian di Yogyakarta ini mengakui, di Yogyakarta setidaknya ada 100 Napiter yang bergabung dalam yayasan tersebut. Ia dan kawan-kawannya menginginkan hidup yang damai berdampingan. Karena prinsip mereka sekarang mustahil hidup enak di Indonesia tetapi merongrong NKRI.
AYO BACA : Densus Tangkap 15 Terduga Teroris Jaringan JAD
Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Yulianto mengaku sangat merinding mengikuti upacara kali ini. Karena para Napiter bersama dengan komunitas TPST Piyungan yang terdiri dari para pemulung dan warga sekitar turut serta dalam kegiatan upacara ini. Bahkan, karena menghormati HUT Kemerdekaan RI yang ke 75, seluruh aktivitas mengumpulkan sampah di TPST Piyungan berhenti.
"Saya bangga, warga TPST Piyungan justru menunjukkan jiwa besar dan ikut upacara bendera ini."kata Yuli usai upacara.
Terkait dengan para Napiter, Yuli mengatakan, keikutsertaan mereka memang inisiatif sendiri. Di samping itu, Polda DIY ingin menunjukkan kepada para Napiter bahwa masyarakat yang penuh keterbatasan saja masih cinta tanah air dan bisa menunjukkan rasa nasionalisme mereka dengan ikut serta upacara bendera.
Yuli menambahkan, kendati pernah melawan negara namun para Napiter tersebut kini telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Mereka ingin kembali bisa diterima oleh masyarakat. Dan di Yogyakarta, para Napiter tersebut kini sudah bisa hidup berdampingan dengan profesi masing-masing.
"Ada yang wiraswasta, petani, peternak dan lain-lain. Mereka berinteraksi dan diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar,"tambahnya.
AYO BACA : Komando Operasi Khusus TNI Gelar Latihan Penanggulangan Terorisme
![Sejumlah pemulung dan napi teroris ikuti upacara bendera 17 Agustus di TPST Piyungan, Senin (17/8/2020). [Kontributor / Julianto]](https://cdn.ayojakarta.com/fill/1200:675/medias/2025/08/20/hut_ri_pemulung_dan_eks_teroris.jpg)
Share this article
Muhammad Inam mengaku upacara tersebut ia jalankan sesuai dengan kesadaran diri sendiri. Lelaki yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Amrozi pengebom di Bali ini pun sempat merasa berdosa karena pernah menjadi teroris.