JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Minat masyarakat menggunakan jalan tol layang Jakarta-Cikampek (Japek II) masih cukup tinggi di hari kedua operasionalnya.
Tol layang itu mulai beroperasi pada hari Minggu lalu (15/12/2019) sejak pukul 06.00 WIB. Di hari pertama pembukaan dikabarkan bahwa masyarakat dari arah Jakarta sudah mengantre sejak pagi untuk menjajal.
Kemarin (Senin, 16/12/2019), redaksi Ayojakarta ikut menjajal tol layang pertama dan terpanjang di Indonesia tersebut di hari kedua operasionalnya. Redaksi memulai perjalanan sekitar jam 6 pagi, menggunakan akses masuk dari Jalan Tol JORR Jatiasih.
Saat memasuki tol layang yang masih gratis itu, tampak sedikit kepadatan oleh mobil yang hampir semua berpelat B (Jakarta). Namun, kondisi merayap itu tidak sampai membuat laju mobil berhenti.
Benar juga kata banyak orang. Kesan pertama ketika mobil baru memasuki tol layang adalah kontur jalan naik turun alias bergelombang.
Banyaknya sambungan antara satu bagian jalan dengan lainnya pasti membuat mobil yang melaju dengan kecepatan 60-80 Km/jam terentak-entak. Mungkin saja tidak begitu terasa jika berkendara dengan mobil yang suspensinya empuk.
Tentu saja entakan demi entakan dan kontur yang bergelombang itu membahayakan pengendara jika tidak menaati batas kecepatan di dalam tol layang (80 Km/jam). Apalagi tol ini adalah tol jarak jauh sepanjang 36,84 kilometer dan masih relatif sepi, yang kadang membuat pengemudi terlena. Redaksi sendiri sempat mencoba menginjak gas sampai kecepatan di atas 80 Km/jam, namun tidak bertahan lama karena kondisi jalan yang tidak begitu mulus.
AYO BACA : Diresmikan Jokowi, Tol Layang Japek akan Kurangi Kemacetan Hingga 30 Persen
Malam harinya sekitar pukul 18.00 WIB, Ayojakarta kembali menjajal Tol Layang Japek II dari arah Bandung ke Jakarta, masuk dari Karawang Barat, Kabupaten Bekasi. Ketika itu kondisinya lebih menantang karena cuaca hujan deras disertai petir juga angin kencang. Laju mobil harus ditahan di bawah 80 Km/jam karena kondisi aspal lebih licin ditambah kontur yang tidak rata. Memang fasilitas penerangan jalan ketika cuaca seperti itu masih terasa cukup membantu. Namun, pengendara harus tetap ekstra hati-hati karena jarak pandang yang pendek dalam situasi tersebut.
Secara umum, jalan tol ini amat membantu mempersingkat waktu tempuh pengendara ketimbang jalan tol eksisting jalur pendek di bawahnya, terutama karena hanya bisa dilewati kendaraan golongan I mencakup sedan, SUV dan minibus atau MPV.
Ingat, tol layang tentu tidak memiliki rest area dan pompa bensin, jadi Anda harus memastikan kendaraan cukup bensin, ban dalam kondisi baik, dan tubuh tidak dalam kondisi kelelahan sebelum memasuki tol layang.
Pimpinan Proyek Area 1 PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC), Prajudi, yang dikutip dari Tempo, mengatakan bahwa jalan tol layang tersebut dibuat tidak terlalu tinggi dari ruas tol yang ada di bawahnya atau mengambil clearence minimal yakni 5,1 meter.
"Waktu melewati jembatan, maka ditinggikan. Pokoknya jarak [clearence] harus 5,1 meter," ujarnya di Jakarta, Minggu.
Ia juga mengatakan, tol layang masih akan mendapat sentuhan terakhir pada sarana dan prasarana pendukung termasuk penambahan rambu-rambu.
Karena Tol Japek II hanya bisa dilewati kendaraan kecil atau Golongan I nonbus dan nontruk, maka tiap ujung ruas tol dipasang portal agar pengendara mobil berukuran lebih besar tidak bisa masuk.
AYO BACA : Resmi Beroperasi, Tol Layang Japek Gratis Sampai Akhir Tahun

Share this article
Karena Tol Japek II hanya bisa dilewati kendaraan kecil atau Golongan I nonbus dan nontruk, maka tiap ujung ruas tol dipasang portal agar pengendara mobil berukuran lebih besar tidak bisa masuk.