JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan berdasarkan pantauan satelit, jumlah titik panas tahun 2019 lebih banyak dibandingkan tahun 2018 lalu.
Untuk beberapa wilayah, jumlah titik panas juga lebih banyak dibandingkan tahun 2015, yang mencatatkan fenomena el-nino cukup kuat dan kebakaran hutan masif pada saat itu.
''Jika kita bandingkan dengan tahun sebelumnya, misalkan, hotspot tahun ini termasuk melampaui. Sudah melampaui kondisi hotspot pada 2018,'' kata Kasubdit Analisis Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi, Senin (14/10/2019).
Adi memberi contoh, wilayah Riau mencatatkan 4.965 titik panas pada 2015, tetapi pada tahun ini wilayah tersebut mencatat sampai 7.257 titik panas.
AYO BACA : Kepala BNPB Dorong Metode Pentahelix Cegah Karhutla
Demikiah halnya dengan Jambi yang mencatatkan 5.164 titik panas, tetapi pada tahun ini angkanya bertambah menjadi 7.941 titik panas.
Berikutnya, Kalimantan Barat yang juga meningkat dari 6.156 pada 2015 menjadi lebih dari angka tersebut, tidak menyebutkan jumlahnya secara pasti.
Sementara Kalimantan Tengah juga mencatatkan peningkatan jumlah titik panas dari 21.809 pada 2015 menjadi 24.902 titik panas pada tahun ini.
Ia memperkirakan kondisi kemarau yang kering dan panjang tampaknya dimanfaatkan oleh pembakar hutan sehingga titik panas di wilayah tertentu di Kalimantan dan Sumatera jumlahnya melampaui angka pada 2015.
''Jadi, mereka melihat membakar itu lebih efektif waktu kemarau sehingga sepertinya pergerakan pembakaran hutan lebih masif pada tahun ini,\" pungkasnya.
AYO BACA : Jokowi: Pencegahan Karhutla Lebih Efektif, Tak Butuh Biaya Banyak
.jpg)
Share this article
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan berdasarkan pantauan satelit, jumlah titik panas tahun 2019 lebih banyak dibandingkan tahun 2018 lalu. Untuk beberapa wilayah, jumlah titik panas juga lebih banyak dibandingkan tahun 2015, yang mencatatkan fenomena el-nino cukup kuat dan kebakaran hutan masif pada saat itu. ''Jika kita bandingkan dengan tahun sebelumnya, misalkan, hotspot tahun ini termasuk melampaui. Sudah melampaui kondisi hotspot pada 2018,'' kata Kasubdit Analisis Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi, Senin (14/10/2019).