JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat frekuensi gempa susulan di Pulau Ambon, Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat mengalami penurunan.
Hingga Rabu siang (2/10/2019) telah terjadi 887 kali gempa susulan dan 94 kali dirasakan masyarakat di wilayah Ambon, Kairatu, Masohi, Haruku, Saparua dan sekitarnya.
Pelaksana Harian Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Ambon Andy Ashar Rusdi mengatakan, gempa susulan yang terjadi dengan kekuatan kecil yakni di bawah 4 Skala Richter.
''Jika melihat periode per hari aktifitas gempa susulan semakin menurun, yakni dari hari pertama sebanyak 244 pada periode 24 jam pertama, 214 hingga hari ke enam semakin menurun. Diharapkan frekuensinya mendekati angka nol,'' jelasnya.
AYO BACA : Tanggap Darurat Pertamina Kirim Bantuan ke Korban Gempa Ambon
Menurut Andy, gempa yang terjadi diduga terdapat pada sesar aktif yang merupakan gempa tipe satu yaitu tipe gempa yang didahului serangkaian gempa pendahuluan atau foreshocks kemudian terjadi gempa utama atau main shock. Selanjutnya diikuti oleh serangkaian gempa susulan atau aftershocks.
Dengan memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar lokal.
''Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah Ambon ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan sesar mendatar,'' papar Andy.
Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik jika terjadi gempa susulan.
''Tindakan tepat yang harus dilakukan saat terjadi gempa berlindung di bawah meja atau kursi. Setelah memastikan aman baru keluar ke halaman agar terhindar dari runtuhan bangunan,'' demikian Andy.

Share this article
BMKG mencatat frekuensi gempa susulan di Pulau Ambon, Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat mengalami penurunan.