JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Dampak kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan semakin parah. Kabut asap semakin menjadi-jadi. Pemerintah pusat dan daerah melakukan banyak upaya untuk memadamkan api.
Salah satu upaya adalah membuat hujan hasil rekayasa cuaca dengan penaburan garam di awan. Bahkan belakangan ini viral pesan elektronik yang mengimbau masyarakat untuk menyiapkan wadah berisi air yang dicampur garam. Katanya, air garam yang dijemur di luar rumah pada siang hari akan menguap kemudian tercampur partikel awan sehingga dapat menciptakan hujan.
Begini lengkapnya isi pesan berantai yang dimaksud: "Sediakan baskom air yang dicampur garam dan letakkan di luar rumah, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik sekitar pukul 11.00 sampai dengan 13.00 WIB, dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara. Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun. Semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di udara. Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, Sabtu pukul 10.00 serempak.. Mari kita sama-sama berusaha untuk menghadapi kemarau kian parah ini."
Tentu saja pesan berantai itu tidak benar. Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menegaskan upaya membuat hujan tidaklah semudah itu.
"Itu hoaks," tegas Kepala BBTMC BPPT, Tri Handoko Seto, kepada Antara, Jumat (13/9/2019).
Seto menekankan hujan tidak bisa datang hanya dengan gerakan satu ember air garam di tiap rumah walau sampai melibatkan ratusan ribu rumah.
Dengan asumsi 10 liter air dalam satu ember, maka hanya ada ribuan meter kubik air yang terkumpul bila aksi itu dilakukan di ratusan ribu rumah.
Dengan begitu, untuk mendapatkan jutaan meter kubik air, perlu ratusan juta ember. Itu pun jika semua air yang ditempatkan di ember menguap.
Sekali lagi, adalah tidak benar menciptakan hujan dengan mekanisme sesederhana itu. Seto mengatakan banyak persyaratan untuk membentuk awan hujan. Selain penguapan yang sangat banyak, juga diperlukan pola angin yang mengarahkan uap air agar terjadi kondensasi di suatu daerah. Namun, pola angin tersebut dapat berubah-ubah dan mengakibatkan uap air tertarik ke arah tertentu.
Selain itu, yang tidak boleh dilakukan adalah membakar hutan dan lahan di musim kemarau agar tidak memperburuk kondisi lingkungan.
"Jangan pernah sekalipun membakar hutan dan lahan di musim kemarau. Kalau lihat api segera dipadamkan," kata Seto.

Share this article
"Itu hoaks," tegas Kepala BBTMC BPPT, Tri Handoko Seto.