AYOJAKARTA.COM - Indonesia sedang menapaki fase penting dalam perjalanan menuju ketahanan energi nasional. Salah satu langkah besar yang terus didorong pemerintah adalah pemanfaatan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Menariknya, bahan bakar bersih ini dapat diproduksi dari batu bara kalori rendah, jenis batu bara yang selama ini kurang bernilai di pasar. Jadi, bagaimana batu bara hitam pekat bisa berubah menjadi gas bersih untuk memasak?
Apa Itu DME?
DME adalah gas sintetik dengan rumus kimia CH₃OCH₃. Secara karakteristik, gas ini mirip LPG mudah terbakar, menghasilkan api biru, dan dapat digunakan di dapur rumah tangga. Infrastruktur distribusi dan tabung gas yang sudah ada pun masih bisa dimanfaatkan dengan penyesuaian teknis tertentu.
Baca Juga: Mending Beli Samsung Galaxy S25 Atau Nunggu Perilisan Galaxy S26 Tahun Depan? Ini Pertimbangannya
Bagaimana Proses Produksi DME?
Perjalanan batu bara menjadi gas siap masak melalui teknologi tingkat tinggi dengan tahapan berikut:
1. Gasifikasi Batu Bara
Batu bara diproses dalam reaktor khusus pada suhu tinggi dengan suplai oksigen terbatas. Alih-alih dibakar, batu bara terurai menjadi syngas, campuran karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H₂).
2. Pemurnian Syngas
Gas sintetik ini kemudian disaring untuk menghilangkan sulfur, debu, dan senyawa berbahaya lainnya agar stabil dan aman digunakan.
3. Sintesis DME
Syngas diubah menjadi metanol menggunakan katalis, lalu diproses kembali hingga menghasilkan Dimethyl Ether.
4. Kompresi dan Distribusi
DME dikompresi dan dipindahkan ke tabung, mirip proses pendistribusian LPG.
Keunggulan DME dari Batu Bara
- Nyala api bersih dan bebas sulfur
- Potensi menekan emisi gas rumah kaca di titik penggunaan
- Memanfaatkan batu bara rendah kalori yang selama ini undervalued
- Mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG
Bahkan pemerintah menargetkan produksi DME 1,4 juta ton per tahun, dengan penyerapan 6 juta ton batu bara. Proyek ini diprediksi menciptakan hingga 34 ribu lapangan kerja langsung maupun tidak langsung, serta menghemat devisa miliaran rupiah dari impor LPG.
Tantangan Produksi DME
Meski menjanjikan, produksi DME dari batu bara punya catatan. Emisi di tahap hulu bisa signifikan jika tidak dibarengi teknologi carbon capture atau penggabungan biomassa.
Selain itu, proyek ini memerlukan dukungan regulasi, harga batu bara khusus, dan skema subsidi awal agar biaya distribusi tetap terjangkau masyarakat. DME membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mandiri energi sekaligus mengoptimalkan sumber daya dalam negeri.
Melalui teknologi yang tepat dan kebijakan kuat, batu bara yang dulu hanya identik dengan polusi kini berpotensi menjadi energi rumah tangga yang lebih bersih dan berkelanjutan.***

Share this article
Indonesia kembangkan DME dari batu bara untuk ganti LPG. Lewat proses gasifikasi hingga sintesis, DME disebut lebih bersih dan efisien, tapi butuh teknologi ramah lingkungan serta dukungan regulasi.