AYOJAKARTA.COM - Calon Presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto, kembali menyoroti kritikan yang disampaikan oleh capres nomor urut satu, Anis Baswedan, dalam debat ketiga pada tanggal 7 Januari lalu.
Prabowo membahas hal ini saat berbicara di hadapan relawan dan pendukungnya di Medan, Sumatera Utara.
Ia menyampaikan bahwa Anies memberikan nilai 11 dari 100 terhadap kinerjanya sebagai Menteri. Namun, Prabowo merespons dengan menyatakan bahwa ia merasa mendapat nilai 99 dari 100 berkat dukungan warga Medan.
Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa rakyat tidak akan memilih pemimpin yang hanya berbicara tanpa tindakan.
"Nilai dari rakyat lebih dari nilai yang saya terima beberapa hari yang lalu di Jakarta. Saya hanya dapat nilai 11 dari 100, tapi hari ini saya rasanya mendapat 99 dari 100” ucap Prabowo.
Prabowo yakin bahwa rakyat Indonesia menginginkan pemimpin yang jujur dan konsisten dalam kata dan perbuatan.
Namun, Anies Baswedan menanggapi sindiran Prabowo dengan menyatakan bahwa semua keberatan seharusnya disampaikan pada saat debat berlangsung, sehingga tidak perlu menjelek-jelekkan lawan debat.
Anies menegaskan bahwa jika Prabowo merasa berhasil dalam debat, maka seharusnya ia merasa tenang dan tidak perlu mengungkit performa kandidat dalam debat ketiga tersebut
"Habis debat, kalau debatnya berhasil, pasti tenang. Habis debat kalau berhasil, pasti tenang. Nah, gitulah, enggak usah tenang saja” ucap Anies Baswedan.
Baca Juga: dr. Gatot Susilo Lawrence Ungkap Fakta Baru Kematian Mirna: Bukti Menunjukkan Tidak Ada Sianida
Anies juga menyoroti bahwa semua keberatan sebaiknya disampaikan saat debat berlangsung, bukan setelahnya.
Ia menegaskan bahwa kesempatan untuk menyampaikan keberatan telah ada selama debat berlangsung.
Dalam hal ini, masyarakat dapat melihat adanya saling sindir antar calon presiden pasca-debat.
Pernyataan yang dilontarkan di arena debat masih berlanjut di depan relawan dan pendukung masing-masing kandidat.
Sebagai bagian dari strategi kampanye, para calon presiden berupaya mempengaruhi persepsi masyarakat, terutama mereka yang belum menentukan pilihan (undecided voters).
Dikutip dari YouTube Kompas TV, Pada Minggu, 14 Januari 2024, Profesor Hamdi Mul, guru besar psikologi politik Universitas Indonesia memberikan pandangan bahwa debat pasca perhelatan debat ketiga mungkin tidak begitu signifikan dalam mengubah elektabilitas yang sudah terbentuk sebelumnya.
Dia menyoroti bahwa elektabilitas telah terbentuk lama dan debat mungkin hanya berpengaruh pada sebagian kecil pemilih yang masih belum menentukan pilihan.
Prof. Hamdi menjelaskan bahwa elektabilitas dipengaruhi oleh tingkat pengenalan kandidat, tingkat kesukaan, dan sikap pemilih.
Dia menegaskan bahwa gimik atau strategi komunikasi yang dilakukan setelah debat mungkin tidak signifikan untuk mengubah pilihan pemilih yang sudah memiliki sikap terbentuk terhadap kandidat.
"Jadi belum tentu orang yang sepertinya dalam tanda kutip begitu agresif attacking semua lawan, lain tidak dibuat berdaya, dia mendapatkan respon positif," ucap Prof. Hamdi.
Namun, Prof. Hamdi juga menekankan bahwa efek dari debat dan strategi pasca debat ini tergantung pada sejauh mana masyarakat menyikapinya.
Bagi pemilih yang rasional dan memahami substansi isu debat, strategi pasca debat mungkin kurang efektif.
Sebaliknya, pemilih yang lebih bermain di tingkat emosi dapat lebih terpengaruh.
Dengan menghadapi debat keempat yang akan datang, para calon presiden perlu mempertimbangkan dampak strategi pasca debat terhadap elektabilitas, terutama untuk menarik perhatian pemilih yang masih belum menentukan pilihan.
Meskipun demikian, substansi isu dan kebijakan yang diusung tetap menjadi fokus utama dalam memenangkan hati pemilih.***

Share this article
Profesor Hamdi Mul, guru besar psikologi politik Universitas Indonesia memberikan pandangan menyoal sikap Anies dan Prabowo