Pertama kali jumpa Saidi, sekitar sembilan tahun lalu. Saya cuma dikagetkan ketika dia sebut usia-nya yang 10 tahun dia tas saya. Kini pria yang dikenal dengan panggilan Jaro Saidi di lingkungan-nya itu berusia 67 tahun.
Jaro Saidi punya jabatan yang layak untuk kita angkat topi, karena beliau bertanggung jawab secara formal (atas nama lembaga adat) demi terpeliharanya tatanan nilai adat suku Baduy secara utuh dan mutlak untuk dipatuhi masyarakat suku Baduy, yakni: Tanggungan Jaro Dua Belas.
Baduy adalah sebuah kelompok masyarakat yang menurut konstitusi resmi negara, dianggap sebagai penguasa wilayah tanah adat yang berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Butuh proses yang cukup panjang untuk akhirnya membuat saya dan Jaro Saidi bisa "nyambung" dalam diskusi. Rahasia-nya adalah, saya harus mengedepankan pola pikir sederhana.
Pola pikir rumit yang merupakan ciri khas masyarakat perkotaan atau masyarakat modern adalah hambatan serius untuk bisa menikmati diskusi dengan umumnya orang Baduy, khusus-nya yang tergolong dianggap tokoh di komunitas masyarakat tersebut. Masyarakat golongan biasa di komunitas Baduy, sebaiknya jangan diajak diskusi, cukup diperhatikan perilakunya yang pada dasarnya berkarakter lugu, di situ banyak pelajaran dasar tentang manusia dan kemanusiaan.
Setelah beberpa kali kami diskusi, saya makin disadarkan bahwa pola pikir sederhana adalah sebuah posisi pola pikir di mana kita punya sudut pandang untuk bisa memaknai berbagai hal filosofis, khususnya filosofi tentang hidup dan kehidupan.
Persahabatan adalah dasar paling asik yang dijadikan alasan bagi kami untuk sering ngobrol ngalor-ngidul sambil ngopi dan makan singkong goreng hasil kebun beliau. Membuat saya gak ingat lagi berapa kali kami berkesempatan ngobrol. Tapi saya ingat banget ekspresinya ketika dia cerita tentang pertemuannya dengan dua Presiden terakhir republik ini.
Jaro Saidi selalu akan jadi utusan terdepan lembaga adat Baduy, untuk pembahasan tentang nilai-nilai adat dengan siapapun pihak luar, baik itu dengan para NGO (LSM) sampai Presiden. Beliau punya ekspresi yang sama ketika berhadapan dengan siapa pun jika bicara tentang nilai-nilai adat, kecuali ketika berhadapan dengan dua presiden terakhir republik ini. Menurut saya, ada nada kegetiran, terlihat dari ekspresi ketika beliau cerita ke saya.
Keterkejutan terakhir yang saya rasakan saat beberapa pertemuan terakhir kami adalah tentang kekhawatiran akan potensi runtuhnya benteng pertahanan nilai-nilai adat yang sudah mereka jaga bertahun-tahun.
Keberadaan masyarakat Baduy dengan tatanan nilai adatnya, ada yang bilang berusia ratusan tahun. Tapi saya punya argumen yang sangat panjang lebar untuk dijelaskan bahwa keberadaan tatanan nilai yang mereka anut tersebut sudah berusia sangat panjang, yakni sejak sebelum ada kultur bertani dan berternak. Artinya, itu sudah ribuan tahun lalu.
Seperti yang disiratkan lewat beberapa kata sederhana dalam beberapa pertemuan terakhir, Jaro Saidi nampaknya sudah sampai pada tahapan kesimpulan bahwa kondisi ini harus diantisipasi. Jika tidak, maka benteng pertahanan tatanan nilai peradaban manusia paling sederhana yang masih ada di muka bumi dan tinggal satu-satunya tersebut, hanya perlu menunggu waktu yang tidak akan lama lagi, bakal hancur lebur berantakan.
Kepedihan yang beliau rasakan, tercetus spontan saat obrolan terakhir kami dua hari lalu di teras rumah saya di sana, kira-kira ungkapannya begini: "tatanan nilai adat Baduy itu kan sebenernya tuntunan, tapi pandangan banyak orang luar (non-Baduy), bahkan sudah mulai diamini oleh sebagian kelompok orang Baduy sendiri, sebagai tontonan".
Saya juga sempat spontan terperanjat…
Heru Nugroho
Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama, dan Marketing Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi); Mantan Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga

Share this article
Beliau punya ekspresi yang sama ketika berhadapan dengan siapa pun jika bicara tentang nilai-nilai adat, kecuali ketika berhadapan dengan dua presiden terakhir republik ini.