Insiden masuknya kapal Coats Guard Cina yang masuk ke Indonesia, menambah sengitnya kondisi kemanan di wilayah perbatasan Natuna.
Masuknya kapal asing bukan kali pertama terjadi di perbatasan Natuna. Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah Indonesia telah telah menambah kekuatan militer di daerah terluar, termasuk kepulauan Natuna.
Namun di balik usaha menambah kekuatan militer di Natuna, tidak mampu meredam insiden demi insiden di perbatasan Natuna.
Saya kira Indonesia perlu menambah lagi kekuatan militer di Natuna sebagai langkah preventif masuknya kapal asing masuk. Dalam kasus insiden dengan negara China belakangan ini. Hal ini menunjukkan lemahnya pertahanan Indonesia di daerah perbatasan.
Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan lagi konsep detterence dalam menjaga kedaulatan. Sebagai bangsa besar, pemerintah Indonesia perlu membangun citra "gahar", agar tidak dianggap remeh oleh negara asing.
Di samping melakukan soft diplomacy, pemerintah perlu juga mempertimbangkan hard diplomacy melalui pertunjukkan kekuatan militer yang masif. Dan saya setuju dengan sikap Bu Menteri Luar Negeri, bahwa perlu ada peningkatan pengawasan dan patroli di wilayah perbatasan.
Menurut saya, bukan hanya patroli saja, tapi harus ada juga peningkatan kekuatan militer di Natuna.
Ke depannya ancaman di walayah perbatasan bukan hanya berasal dari negara China saja, ada banyak negara yang memiliki kepentingan geopolitik dan geostrategis di Laut Cina Selatan. Mengingat Natuna dan laut sekitarnya merupakan kawasan strategis, itulah sebabnya kenapa wilayah ini jadi rebutan, saya sarankan pemerintah wajib memberi perhatian lebih di sana.
Dwi Hidayat
Alumni S2 FISIPOL-Hubungan Internasional UGM; Kader Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK)

Share this article
Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan lagi konsep detterence dalam menjaga kedaulatan. Sebagai bangsa besar, pemerintah Indonesia perlu membangun citra "gahar", agar tidak dianggap remeh oleh negara asing.