AYOJAKARTA.COM - Kerap tampil di hadapan massa, sosok Jusuf Kalla mantan wakil presiden ke-10 dan ke-12 ini menjadi sorotan publik.
Pasalnya di beberapa kesempatan, Jusuf Kalla tampil berpidato menyampaikan aspirasinya, padahal sebelumnya ia hanya jadi juru lobi politik di ruang tertutup.
Seperti halnya dikutip AyoJakarta.com melalui kanal YouTube 2045 TV, beberapa ungkapan dari pidato Jusuf Kalla yang dinilai mengkritik pemerintahan Jokowi.
Baca Juga: Jusuf Kalla Singgung Soal Pemerintah Bayar Utang Lebih dari Rp1.000 Triliun per Tahun!
Pertama, Jusuf Kalla menyebut bahwa pemerintah mampu membangun jalan tol 2600 km untuk menanggulangi macet, tapi membiarkan 170.000 km jalan di Indonesia rusak.
"Baru-baru ini viral, kenapa jalan di Lampung, di Jambi, di Makassar rusak luar biasa, kita bangga bahwa pemerintah, juga waktu saya memerintah, mampu tol 2.600 km, kita penting kalau tidak macet waktu lebaran," ungkap Jusuf Kalla.
"Tetapi 170.000 km jalan rusak di Indonesia rusak, itu data BPS, artinya orang bisa menganggap kalau mau jalan baik hanya orang mampu yang bisa jalan baik, karena bayar," lanjutnya.
Baca Juga: Beri Wejangan ke Anies Baswedan Sebagai Capres, Jusuf Kalla Sentil Soal Warisan Utang Negara
Jusuf Kalla menilai, perbandingan ini merupakan salah satu bentuk ketidakadilan bagi rakyat, melihat pemerintah tidak memperhatikan jalan yang dilalui rakyat kecil.
"Tapi jalan rakyat yang dijalani tiap hari oleh petani kita, pedagang kecil kita, oleh siapapun, rusak tidak diperbaiki, itu ketidakadilan untuk rakyat, contoh kecil saja," ujar Jusuf Kalla.
Ungkapan dari Jusuf Kalla ini dinilai salah satu bagian dari kampanye Koalisi Perubahan, yang merupakan kampanye bagi Anies Baswedan.
Adapun ungkapan Jusuf Kalla lainnya yang seolah mengkritik presiden Jokowi adalah saat diadakan pertemuan presiden dengan enam ketua umum partai politik di istana.
Dalam ungkapannya Jusuf Kalla menyebut, ada baiknya seorang presiden tidak terlalu melibatkan diri dalam dunia perpolitikan.
"Kalau pertemuan itu membicarakan karena ini di istana ya, membicarakan urusan pembangunan wajar saja, berarti ada pembicaraan penting," ungkap Jusuf Kalla.
"Menurut saya presiden itu taruhnya seperti ibu Mega dulu, SBY, begitu akan berakhir maka tidak terlalu jauh melibatkan diri dalam suka atau tidak suka dalam perpolitikan, supaya lebih demokratis," sambungnya.
Kemungkinan penilaian dari ungkapan Jusuf Kalla geram terhadap sikap Presiden Jokowi yang seolah ikut campur dalam soal terkait pilpres.
Ungkapan Jusuf Kalla ini seolah ada hubungannya dengan pencapresan Anies Baswedan, kemungkinan ditakutkan Anies Baswedan tidak mendapat dukungan dari Presiden Jokowi.***

Share this article
Jusuf Kalla menilai bahwa pemerintahan Jokowi kini tidak memperhatikan jalan yang dilalui rakyat kecil.